Zonakepri.com-Keberadaan angkutan kota (Angkot) di Kota Tanjungpinang jumlahnya makin berkurang dari waktu ke waktu, seiring menurunnya jumlah penumpang.
Sejak kurun waktu sepuluh tahun terakhir hingga lima tahun terakhir, nasib angkot di Kota Tanjungpinang makin terpuruk dan menyedihkan.
Dalam satu angkot, kadang hanya mengangkut satu hingga dua penumpang dari kawasan Km 10 Tanjungpinang hingga Pasar Baru Tanjungpinang. Bahkan dari Pasar Baru Tanjungpinang ke arah Km 10 Tanjungpinang hanya satu dua penumpang juga, bahkan ada juga angkot yang kosong dari km 7 hingga km 10 Tanjungpinang.
“Betul betul sepi penumpang angkot sekarang ini. Menangis kalau melihat nasib pengemudi angkot. Mau cari penghasilan Rp50 ribu sehari pun susah,”sebut Pak Itam selaku anggota organisasi angkutan darat (Organda) Provinsi Kepri, 21 Mei 2026.
Menurut Pak Itam, tarif angkot di Kota Tanjungpinang sejak beberapa tahun terakhir tidak ada perubahan tarif. “Ya, hanya kesepakatan antara sopir dan penumpang. Dan juga ada yang menerapkan tarif lama yang ditetapkan beberapa tahun yang lalu,”ujarnya.
Sopir angkot di Kota Tanjungpinang saat ini mengalami penurunan penumpang yang berdampak juga menurun penghasilan. Dampaknya, untuk membeli pertalite pun sudah tak mampu. Meski harga pertalite masih normal Rp10 ribu per liter. “Sopir angkot sudah banyak yang menggunakan tabung gas sebagai pengganti pertalite. Kalau menggunakan pertalite bisa sehari mengeluarkan uang Rp250 ribu per hari. Sedangkan menggunakan tabung gas, cukup dua tabung gas sehari yakni Rp40 ribu saja.
Namun, penumpang terkadang khawatir dan takut ketika mau naik angkot dan terlihat menggunakan tabung gas. “Takut meledak,”katanya.
Penghasilan sopir angkot di Kota Tanjungpinang, sudah anjlok dan tak mampu untuk memenuhi biaya operasional. Apalagi membeli spare part. “Angkot di Tanjungpinang tidak ada yang milik perusahaan atau PO. Seperti Wira Santi, Bayu Putra atau lainnya. Hanya ada angkot pribadi saja. Itupun jumlahnya sekitar dua puluhan saja. “Dulu jumlah angkot di Kota Tanjungpinang ratusan, sekarang tinggal dua puluhan saja yang aktif,”sebut Pak Itam.
Tambahan penghasilan sopir angkot saat ini, diantaranya ketika ada kapal Pelni yang sandar di Pelabuhan Sribayintan Kijang dan penumpang yang turun dari kapal Roro di Tanjung Uban, juga langganan untuk antar jemput pelajar SD ataupun SMP, juga mahasiswa Umrah. Namun hanya beberapa angkot saja yang memiliki langgaran penumpang untuk antar jemput ke sekolah.
Salah satu pengemudi angkot di Kota Tanjungpinang Afrizal mengatakan keberadaan angkot makin terpinggirkan secara perlahan namun pasti. Seiring dengan masuknya kendaraan yang menggunakan aplikasi online baik roda empat atau roda dua di Kota Tanjungpinang.
Sementara itu, salah satu warga Tanjungpinang Endang mengaku susah sekali untuk naik angkot. Dulu banyak angkot hilir mudik di jalan, sekarang sepi sekali. “Nunggu angkot melewati jalan Sei Jang saja nunggu berjam jam tidak ada yang lewat,”sebutnya.
Akhirnya, nemui Gojek yang sedang lewat. “Kadang Gojek ada yang mau berhenti dan mengantar. Tapi kadang gojek pun sudah ada pesanan, sehingga susah sekarang mau bepergian. Untuk pesan kendaraan online tidak punya aplikasi Go Car atau Gojek,”tambahnya. (rul)