Zonakepri. Com-Membludaknya pengunjung berwisata religi dan sejarah di Pulau Penyengat Kota Tanjungpinang saat libur Idul Fitri 1446 H, membuat pengemudi becak motor Gelis kewalahan untuk mengantar penumpang berkeliling di tempat wisata.
Sehingga, ketika berkunjung untuk berwisata di Pulau Penyengat tidak bisa berharap untuk naik Gelis. Hanya ada beberapa pengemudi Becak Motor yang mempergunakan Gelis untuk mengangkut penumpang disaat pengunjung membludak.
Pasalnya Becak Motor Gelis yang berbahan bakar listrik kurang maksimal kekuatannya. Sehingga tidak maksimal dipergunakan untuk mengangkut ribuan pengunjung untuk berwisata dari satu tempat ke tempat yang lain di Pulau Penyengat.
Mamang, salah satu pengemudi becak motor di Pulau Penyengat mengatakan, jumlah pengemudi becak motor di Pulau Penyengat ada 27 orang beserta becak motornya. Mamang mengaku dirinya telah menerima bantuan becak motor listrik yang diberi nama Gelis beberapa waktu lalu dari Pemerintah. Namun saat pengunjung membludak, maka becak motor lama berbahan bakar bensin pertalite terpaksa dipakai untuk mengantarkan penumpang berkeliling mulai dari Masjid Sultan Riau Penyengat, Komplek makam Raja Haji Fisibilillah hingga Balai Adat dan balik kembali ke Masjid Sultan Riau Penyengat.
“Kalau menggunakan becak motor Gelis, untuk mesin listrik Gelis bantuan yang lama hanya mampu mengantarkan tiga kali berkeliling saja. Aki becak harus dicas selama tiga jam untuk bisa dipakai lagi. Namun untuk becak Motor Gelis bantuan yang baru diserahkan pemerintah dengan aki yang baru mampu mengantarkan enam kali putaran,” sebutnya, Sabtu 5 April 2025.
Mamang mengatakan, pengunjung sebetulnya suka naik becak motor gelis karena memiliki tempat duduk yang lebih nyaman. Namun banyaknya pengunjung yang antri untuk naik becak motor, maka pengunjungpun mau juga naik becak motor berbahan bakar bensin. “Itupun ada pengunjung yang tidak terlayani naik becak motor, sehingga berjalan kaki dari Masjid Sultan Riau Penyengat hingga ke Balai Adat, ” Terangnya.
Hal senada disampaikan Said yang juga mempergunakan becak motor berbahan bakar bensin. “Daripada tidak terkejar melayani penumpang, lebih baik menggunakan becak motor berbahan bakar bensin daripada becak motor gelis berbahan bakar listrik.
Menurut Said, padatnya pengunjung di Pulau Penyengat membuat dirinya tak lagi bisa menghitung sudah berapa kali putaran mengantarkan penumpang. “Berkali kali antar jemput penumpang, tak terhitung lagi. Ada sekitar 20-30 kali putaran dalam sehari saat ramai pengunjung,” ungkapnya.
Sementara itu, tarif untuk naik becak motor sekali putaran sebesar Rp50 ribu. Jika hanya antar penumpang dari Halaman Masjid Sultan Riau Penyengat hingga ke Balai Adat hanya Rp25 ribu.
Salah satu pengunjung Dede, mengatakan dirinya bersama keluarga naik becak motor dari Halaman Masjid Sultan Riau Penyengat menuju Komplek makam Raja Haji Fisabilillah dan Balai Adat. Namun ternyata, becak motor yang ditumpangi untuk mengantarkan kembali ke Halaman Masjid Sultan Riau Penyengat sudah berlalu pergi untuk mengantarkan pengunjung yang lain. Ketika Dede sekeluarga berada di ruangan Balai Adat. “Becak motor tidak bisa menunggu penumpang berlama lama di satu lokasi, karena antrian penumpang sudah menunggu untuk diantarkan berkeliling, “ujarnya. (rul)