Zonakepri.com– Festival Kopi Merdeka kembali digelar Pemprov Kepri di Kota Lama Tanjungpinang mulai 20 Agustus hingga 23 Agustus 2026.
Event tahunan Pemprov Kepri ini menjadi moment memperkenalkan budaya, menggerakkan UMKM dan menarik wisatawan baik manca negara maupun lokal untuk berkunjung di Tanjungpinang.
Festival Kopi Merdeka selain menggerakkan ekonomi masyarakat juga menjadi hiburan bagi masyarakat dengan menikmati beragam kuliner maupun hiburan sejumlah artis. Salah satunya Virgoun dengan lagu hits yang telah dikenal dan digemari masyarakat.
Ribuan masyarakat berbondong bondong memadati kawasan digelarnya Festival Kopi Merdeka menyaksikan penampilan penyanyi yang lagunya sudah digemari selama ini. Kamera handphone menjadi salah satu sarana mengabadikan penampilan artis di panggung.
Pada malam puncak Festival Kopi Merdeka pada Minggu malam 23 Agustus 2026 puluhan ribu masyarakat dari berbagai kabupaten/kota di Kepulauan Riau memenuhi kawasan tersebut untuk menyaksikan puncak Festival Kopi Merdeka (FKM) Tahun 2026.
Bagi Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau, kemeriahan tersebut bukan semata-mata ukuran keberhasilan sebuah acara. Lebih jauh, Festival Kopi Merdeka memperlihatkan bagaimana sebuah kegiatan yang berangkat dari budaya masyarakat dapat berkembang menjadi instrumen pembangunan pariwisata.
Gubernur Kepri Ansar Ahmad menyebut Festival Kopi Merdeka telah melalui perjalanan sejak 2022. Berawal dari gagasan untuk menggairahkan ekonomi masyarakat melalui budaya ngopi khas Kota Gurindam, festival tersebut kemudian terus berkembang. Festival ini digagas sejumlah pihak, seniman, pengusaha, serta pelaku ekonomi kreatif yang ada di Kota Tanjungpinang. Di antaranya mantan Kejari Tanjungpinang Joko Yuhono dan Husnizar Hood.
Pada 2023 dan 2024, festival menjadi bagian dari Tanjungpinang Fest yang masuk dalam rangkaian Karisma Event Nusantara. Setahun berikutnya, kegiatan tersebut masuk dalam rangkaian event pariwisata Provinsi Kepri dan menjadi bagian dari persiapan Calendar of Events Pariwisata Kepri Tahun 2026.
Perubahan posisi tersebut menunjukkan bahwa event lokal dapat memiliki nilai yang lebih besar ketika dikelola secara berkelanjutan. Festival tidak hanya menjadi tempat masyarakat berkumpul, tetapi juga menjadi ruang promosi destinasi, produk UMKM, seni budaya dan kreativitas masyarakat.
Pendekatan inilah yang kemudian disebut sebagai event based tourism. Kepri tidak hanya menjual keindahan alam dan destinasi wisatanya, tetapi juga menghadirkan alasan bagi wisatawan dan masyarakat untuk datang melalui berbagai kegiatan yang memiliki karakter lokal.
Data pariwisata dan ekonomi memberikan konteks terhadap strategi tersebut. Kunjungan wisatawan mancanegara ke Kepri sepanjang Januari hingga Mei 2026 mencapai 837.015 orang, sementara pada Mei saja tercatat 210.737 kunjungan.
Pertumbuhan ekonomi Kepri pada Triwulan II 2026 yang mencapai 6,99 persen secara year-on-year juga memperlihatkan bahwa geliat ekonomi daerah berjalan cukup kuat. Kepri tercatat berada di posisi pertama di Sumatera dan peringkat ketiga nasional.
Dari sisi kebudayaan, Indeks Pembangunan Kebudayaan Kepri pada 2024 mencapai 60,34 poin, naik dari 59,80 poin pada 2023. Perkembangan tersebut menjadi salah satu indikator bahwa agenda ekonomi dan pariwisata dapat berjalan beriringan dengan penguatan kebudayaan.
Karena itu, Festival Kopi Merdeka memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar festival minuman. Di dalamnya terdapat pertemuan antara budaya, ekonomi kreatif, pariwisata, UMKM dan ruang publik masyarakat.
“Atas nama Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau, saya sangat menyambut baik dan menyampaikan apresiasi atas penyelenggaraan Festival Kopi Merdeka Tahun 2026 ini,” kata Ansar.
Ia juga mengajak masyarakat Kepri, khususnya Kota Tanjungpinang, untuk terus mendukung berbagai penyelenggaraan event nasional maupun internasional.
Ajakan tersebut menjadi penting karena keberhasilan sebuah event pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh pemerintah atau penyelenggara.
Karena keramaian yang terlihat di Jalan Merdeka menjadi modal sosial yang menunjukkan adanya antusiasme masyarakat terhadap kegiatan yang mengangkat identitas daerah.
Malam puncak festival kemudian ditutup dengan berbagai pertunjukan, mulai dari penampilan sanggar tari, pemenang Fashion Kopi Merdeka, hingga Fauzana dan Aprilian. Gubernur Ansar bersama Wagub Nyanyang juga menyerahkan hadiah kepada para pemenang lomba.
Pada akhirnya, Festival Kopi Merdeka memperlihatkan satu hal, potensi pariwisata tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Sebuah kebiasaan masyarakat, ketika dikemas secara kreatif dan dikelola berkelanjutan, dapat berkembang menjadi kekuatan ekonomi, budaya sekaligus identitas sebuah daerah. (Adv/Ky)