Zonakepri.com – Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau (Pemprov Kepri) menetapkan penanggulangan Tuberkulosis (TBC) sebagai agenda kesehatan utama. Penetapan ini diputuskan usai rapat koordinasi di Gedung Daerah, menyusul kekhawatiran rendahnya cakupan pemeriksaan TBC, terutama setelah berhentinya bantuan internasional dan sejumlah program di tingkat dinas.
Gubernur Kepri, Ansar Ahmad, mengingatkan bahwa TBC merupakan penyakit berbahaya dengan cara penularan yang sama mudahnya seperti COVID-19. Ia menyoroti posisi Indonesia yang menduduki peringkat kedua dunia setelah India dalam jumlah kasus TBC.
“TBC ini bukan penyakit biasa. Setiap tahun lebih dari 1,3 juta orang meninggal karenanya. Penularannya sangat cepat lewat udara, sehingga masyarakat harus lebih waspada,” ujar Ansar.
Untuk mempercepat deteksi dini, Pemprov Kepri akan menggelar program screening massal menggunakan unit Mobile PCR. Langkah ini didanai melalui Biaya Tak Terduga (BTT) yang penggunaannya telah dikonsultasikan dengan Kementerian Dalam Negeri.
Pemprov akan membantu penyediaan alat di kabupaten/kota, sementara pemerintah daerah juga diarahkan memakai BTT mereka guna mendukung operasional kegiatan lapangan.
“Target kita cukup besar, minimal 600 ribu sampel. Ini penting untuk mendapatkan gambaran nyata jumlah kasus TBC di Kepri,” tegasnya.
Selain pemeriksaan, Pemprov juga menyiapkan program Desa atau Kelurahan Sadar TBC. Melalui inisiatif ini, organisasi PKK di tingkat desa/kelurahan akan dilibatkan dalam pendampingan pasien, memastikan penderita tidak putus obat hingga benar-benar sembuh.
Ansar menambahkan bahwa stok obat masih tersedia, sehingga yang diperlukan adalah sistem pemantauan agar pasien tetap disiplin menjalani terapi.
“Dengan gerakan besar-besaran ini, Pemprov Kepri berharap laju penularan TBC dapat ditekan, sekaligus menurunkan angka kematian akibat penyakit menular yang hingga kini masih menjadi ancaman serius di masyarakat,” pungkasnya.(Ki)