Zonakepri.com – Suasana Desa Gunung Durian, Kecamatan Bunguran Utara, terasa berbeda hari ini, Sabtu 21 Maret 2026. Usai gema takbir dan Salat Idul Fitri, langkah-langkah kaki warga mulai menyusuri jalan desa dengan penuh semangat kebersamaan.
Mereka tidak pulang untuk berdiam lama di rumah. Sebaliknya, tradisi yang telah mengakar kuat kembali dijalankan, berkunjung dari rumah ke rumah, menyambung silaturahmi yang telah terjalin sejak lama.
Di RW 001 RT 002, pintu-pintu rumah terbuka lebar. Warga saling datang dan pergi, membawa senyum, salaman hangat, serta ucapan maaf yang tulus di hari yang fitri.
Setiap rumah menjadi tempat berkumpul yang sederhana namun penuh makna. Tak ada sekat, tak ada jarak, semua larut dalam suasana kekeluargaan yang begitu terasa.
Di tengah ruang tamu, tersaji dulang wadah besar berisi aneka hidangan khas lebaran. Sajian itu bukan sekadar makanan, melainkan simbol kebersamaan yang menyatukan warga dalam satu lingkaran.
Warga pun duduk melingkar, menikmati hidangan bersama. Tradisi makan dulang menghadirkan kehangatan tersendiri, di mana tawa dan cerita mengalir tanpa henti.
Cerita lama kembali diangkat, kenangan masa kecil dihidupkan, dan hubungan yang mungkin sempat renggang kembali dipererat melalui kebersamaan sederhana itu.
Bagi Albedri, seorang pemuda Desa Gunung Durian, tradisi ini bukan sekadar rutinitas, melainkan bagian dari identitas yang terus dijaga. “Setiap lebaran, kegiatan seperti ini selalu kami lakukan. Kami sudah menganggapnya sebagai tradisi tahunan di desa kami,” ujarnya.
Tradisi ini juga dijalankan secara bergiliran. Pada hari pertama, kaum laki-laki berkunjung dari rumah ke rumah, sementara di waktu berikutnya, giliran kaum perempuan yang akan melakukan hal serupa.
Di tengah arus modernisasi, tradisi ini menjadi pengingat bahwa kebersamaan dan silaturahmi adalah warisan yang tak ternilai. Masyarakat diharapkan terus menjaga dan melestarikan tradisi ini, agar nilai-nilai kekeluargaan tetap hidup dan dapat diwariskan kepada generasi mendatang. (Zubadri)