Tanjungpinang,Zonakepri-Memasuki Januari 2020, pengerjaan seragam sekolah gratis belum kunjung usai. Orang tua murid juga pelajar, tentu kecewa dengan kondisi ini. Mereka belum bisa mengenakan seragam sekolah gratis pada Januari 2020.
Salah satu dari 43 penjahit lokal yang menerima Penunjukan Langsung (PL) dari sekolah dibawah naungan Koperasi Trendy Tailor di Jalan A Yani Tanjungpinang, ditemui Kamis 2 Januari 2020 merencanakan besok, Jumat 3 Januari 2020 akan menyerahkan seragam sekolah gratis berupa seragam merah putih dan seragam olah raga kepada SDN 004 Bukit Bestari Tanjungpinang.
“Besok mungkin akan diserahkan seragam sekolah gratis untuk merah putih dan seragam olah raga beserta perlengkapan seperti tas, sepatu dan lainnya. Sementara seragam sekolah yang lain masih dikerjakan seperti seragam Pramuka, Baju Kurung Melayu dan Seragam Batik,”sebutnya.
Zulkifli mengatakan, seragam olah raga telah disepakati dijahit di Jakarta bukan penjahit lokal. Mengingat menjahit bahan kaos berbeda dengan kain biasa. Sehingga mesin jahit yang digunakan juga berbeda dengan penjahit kain umumnya.
Menyikapi belum tuntasnya seragam sekolah gratis sesuai batas akhir pengerjaan 31 Desember 2019, tidak ada satupun DPRD Kota Tanjungpinang yang memberi tanggapan. Ketua DPRD Kota Tanjungpinang Yuniarni Pustokoweni, Wakil Ketua DPRD Tanjungpinang Ade Angga bahkan yang membidangi pendidikan Agus Chandra Wijaya juga tidak memberi jawaban atas pertanyaan yang disampaikan media ini melalui WA nomor mereka.
Menurut pendapat Ketua Harian Penggiat Anti Korupsi LSM Gethuk Tengku Azhar, dirinya merasa heran pengerjaan seragam sekolah yang dikerjakan menggunakan dana APBD P tahun 2019 sekitar Rp6,2 miliar belum tuntas hingga di awal Januari 2020.
“Orang tua murid tentu sudah menunggu realisasi pembagian seragam sekolah gratis pada awal Januari 2020. Pasalnya, Walikota bersama DPRD Kota Tanjungpinang telah menyerahkan secara simbolis seragam sekolah gratis pada 16 Desember 2019. Namun kok hingga awal Januari 2020 belum tuntas pengerjaan oleh penjahit lokal. Herannya, DPRD Kota Tanjungpinang terkesan tutup mulut menyikapi kenyataan ini,”sebutnya.
Lebih jauh dikatakannya, semestinya Pemko Tanjungpinang melihat kemampuan penjahit lokal dalam mengerjakan seragam sekolah gratis.
Kurangnya analisa kemampuan penjahit lokal membuat pengerjaan seragam sekolah gratis tidak tepat. Demikian juga perlu dikaji waktu pengerjaan apakah cukup atau tidak dengan jumlah seragam sekolah yang dikerjakan. Mengingat seragam sekolah dijahit menggunakan kemampuan manusia normal yang memiliki kemampuan terbatas dan bukan dikerjakan robot.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Tanjungpinang Atmadinata saat penyerahan secara simbolis seragam sekolah pada 16 Desember 2019 di Aula SMPN 4 Tanjungpinang menjelaskan total siswa yang menerima seragam sekolah dan perlengkapan sekolah sebanyak 6.682 orang.
“Untuk siswa Sekolah Dasar Negeri dan Swasta sebanyak 3.301 siswa, untuk Sekolah Menengah Pertama Negeri dan Swasta sebanyak 3.381 orang, dengan anggaran seluruhnya sebesar Rp. 6.278.402.955 (enam milyar dua ratus tujuh puluh delapan juta empat ratus dua ribu sembilan ratus lima puluh lima rupiah),” Ungkap Atma.
Pelaksanaan pengadaan seragam dan perlengkapan sekolah untuk sekolah negeri SD dan SMP dilaksanakan oleh sekolah masing masing, dengan DPA pada masing masing sekolah. Sedangkan pengadaan untuk SD dan SMP Swasta melalui DPA Dinas Pendidikan Kota Tanjungpinang.
Disebutkannya setiap siswa akan mendapatkan seragam putih merah untuk SD, dan putih biru untuk SMP, kemudian seragam pramuka, seragam batik, baju kurung Melayu, seragam olahraga, tas, sepatu, kaos kaki dan buku tulis.
Sementara itu, Walikota Tanjungpinang Syahrul SPd menjelaskan pengerjaan baju seragam ini melibatkan penjahit lokal. Tujuannya adalah untuk memberikan peluang kepada pengusaha dan penjahit lokal untuk mendapatkan tambahan serta terjadi perputaran ekonomi di masyarakat Kota Tanjungpinang.
“Maka dari itu Pemerintah Kota Tanjungpinang memutuskan untuk melibatkan 43 pengusaha penjahit rumahan, dengan melibatkan 200-an penjahit yang tersebar di seluruh Kota Tanjungpinang, dengan demikian tentu akan ada dampak positif bagi kelompok penjahit kecil di Tanjungpinang, dengan mendapatkan tambahan pekerjaan ini, mereka juga bisa mendapatkan tambahan penghasilan,” tambah Syahrul kala itu. (red)