BMKG RHF : Minim Hujan Berpotensi Krisis Air Bersih di Tanjungpinang-Bintan  

Zonakepri.com-Kondisi minimnya hujan belakangan ini yang berlangsung di wilayah Kota Tanjungpinang dan Kabupaten Bintan berpotensi menimbulkan berbagai dampak serius.

Krisis air bersih menjadi salah satu masalah utama, mengingat berkurangnya pasokan air untuk kebutuhan sehari-hari dan pertanian. Selain itu, kekeringan dan angin kencang juga meningkatkan risiko meluasnya kebakaran lahan yang tidak terkendali jika ada aktifitas perluasan lahan dengan cara dibakar.

Menyikapi kondisi cuaca saat ini, dihimbau kepada masyarakat untuk menghemat penggunaan air dan menghindari pembakaran lahan sembarangan yang dapat memicu kebakaran lahan tidak terkendali. Serta tetap waspada serta berhati-hati terhadap potensi terjadinya penyebaran yang cepat jika terjadi kebakaran lahan/ hutan/ pemukiman akibat hembusan angin yang kencang.

Prakirawan BMKG Bandara RHF Tanjungpinang Robbi Akbar Anugrah dan Atikah Rozanah Niri menyebutkan Berdasarkan prediksi curah hujan dasarian, untuk wilayah Kota Tanjungpinang dan Kabupaten Bintan hingga dasarian III Februari 2026 diprediksi masih dalam kategori Rendah dan penurunan ini termasuk dalam kategori sifat hujan Bawah Normal.

Diterangkannya, wilayah Kota Tanjungpinang dan Kabupaten Bintan memiliki iklim yang tidak mengenal musim kemarau atau periode kering yang berkepanjangan.

Berdasarkan klasifikasi curah hujan, Pulau Bintan termasuk ke dalam tipe hujan sepanjang tahun (equatorial/EQ 4). Ini berarti curah hujan di wilayah ini relatif merata hampir sepanjang tahun tanpa adanya bulan kering yang dominan. Oleh karena itu, wilayah ini cenderung basah sepanjang tahun dan tidak mengarah pada kondisi kering yang panjang

Penurunan curah hujan belakangan ini disebabkan oleh gangguan cuaca yang terjadi, yang dipengaruhi oleh adanya Zona Konvergensi Intertropikal (ITCZ) yang terkonsentrasi di wilayah Sumatera, Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.

Keberadaan ITCZ ini menarik massa udara, yang menyebabkan angin kencang di wilayah Kepulauan Riau, termasuk Pulau Bintan, sehingga menghambat pertumbuhan awan hujan di wilayah ini.

“Meskipun cuaca saat ini terasa panas, namun diprakirakan terdapat potensi hujan dengan intensitas ringan dalam skala lokal atau tidak merata untuk beberapa hari ke depan, ” Terangnya, Senin 26 Januari 2026.

Aktivitas Monsun Asia turut berperan dalam meningkatkan kecepatan angin di wilayah Kepulauan Riau, termasuk Pulau Bintan, dengan kecepatan angin mencapai 10-40 km/jam. Monsun ini juga menyebabkan masuknya udara dingin dari dataran Asia ke Indonesia, khususnya di bagian utara ekuator yang mempengaruhi cuaca di Kepulauan Riau.

Sementara itu, untuk tinggi gelombang laut rata-rata sedang yakni 1,25 m hingga 2,5 m. Termasuk Anambas dan Natuna. Sedangkan untuk perairan Karimun, tinggi gelombang berkisar 0,5 m hingga 1,25 m.

Dalam kesempatan ini, masyarakat juga dihimbau agar selalu memantau dan update informasi cuaca resmi melalui aplikasi InfoBMKG/ www.bmkg.go.id dan Instagram BMKG Tanjungpinang. (Rul)

 

Angin KencangBerpotensi krisis air bersihMinim hujanPrakiraan cuaca Tanjungpinang-Bintan
Comments (0)
Add Comment