Zonakepri.com-Yayasan Bahtera Sasana Tanjungpinang yang mengelola Vihara Bahtra Sasana yang berlokasi di Jalan Merdeka Tanjungpinang mentargetkan pelaksanaan rehab Vihara tuntas dua tahun lagi.
Hal itu disampaikan pengurus Yayasan Karsidi didampingi Kabid Cagar Budaya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Tanjungpinang Wimy Darma Hidayat, Rabu 5 Februari 2025 di Vihara Bahtra Sasana Tanjungpinang.
Karsidi menuturkan, kondisi vihara sebelum dilakukan rehab, sangat memprihatinkan. Karena atap roboh sebanyak dua kali. Oleh karena itu, pihak yayasan menutup vihara untuk sementara beberapa tahun lalu.
“Semula tidak ada rencana untuk merehab vihara, namun kondisi bangunan yang terdiri dari kayu sudah banyak yang lapuk dan ambruk, maka dilakukan rehab,” terangnya.
Ada tiga gedung yang masuk dalam kategori Benda Cagar Budaya di Vihara Bahtra Sasana. Yakni bangunan depan, tengah dan belakang. “Saat bangunan depan ambruk, maka yang dipergunakan untuk sembahyang bangunan bagian belakang saja, ” sebut Karsidi.
Pelaksanaan rehab keseluruhan, dimulai sejak 2019 lalu. Untuk rehab ini berkoordinasi dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Tanjungpinang, Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) serta Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Tanjungpinang di Jalan Pramuka. Mengingat Vihara Bahtra Sasana Tanjungpinang yang dibangun tahun 1857 termasuk Benda Cagar Budaya (BCB).
Karsidi menuturkan, pelaksanaan rehab Vihara Bahtra Sasana tidaklah semulus yang direncanakan. Kabar rehab vihara tersiar di Medsos mengatakan tidak ada ijin. Sehingga Polda Kepri turun tangan dalam hal ini. Bahkan Polda Kepri sempat berkunjung ke Vihara terkait isu dugaan penjualan barang antik milik Vihara. “Entah siapa yang melapor, Polda Kepri mendatangi vihara atas dugaan penjualan barang antik, ” ujar Karsidi.
Menurutnya, pelaksanaan rehab Vihara dilakukan sesuai prosedur dan arahan langsung BPCB juga Disbudpar Tanjungpinang. “Untuk ornamen vihara beragam motif yang asli tersimpan dalam bangunan yang dinamakan museum terletak disamping bangunan utama, “ungkapnya.
Saat dilakukan pembongkaran vihara beberapa tahun lalu, juga ditemukan adanya tulisan pada kayu yang mengatakan bahwa rehab total vihara dilakukan tahun 1916.
Kondisi ornamen dan hiasan berupa ular yang rapuh dan rusak akan digantikan dengan motif dan corak tidak berubah dengan bahan yang kondisional. Namun jika bahan tidak ada yang sama dengan asli maka diganti dengan lainnya.
Hal sama juga dilakukan untuk tiang vihara yang aslinya dari kayu, kini diganti dengan bahan yang lain.
Khusus untuk atap Vihara, didatangkan langsung dari Cina. Karena memang aslinya dulu untuk atap vihara dari Cina.
Sementara pintu gerbang vihara, yang memiliki ornamen diatasnya, juga akan dibuat memiliki motif yang sama. Khusus pintu di gerbang Vihara yang terlihat sudah rapuh akan diganti. “Semua masih ada, yang rusak dan tidak bisa dipakai disimpan dalam museum,” papar Karsidi yang mengisahkan dulunya vihara ini sempat menjadi lokasi penampungan bagi pengungsi Vietnam. “Saat itu belum ada tempat untuk pengungsi Vietnam di Asia Tenggara, ” ungkapnya.
Karsidi mengatakan, Vihara Bahtra Sasana Tanjungpinang menyimpan sejarah dan nilai sejarah yang tinggi. Oleh karena itu, Vihara ini menjadi kebanggaan bersama sekaligus menjadi saya tarik bagi wisatawan.
Kabid Cagar Budaya Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata Kota Tanjungpinang Wimy Darma Hidayat mengatakan pihak BPCB Batu Sangkar telah memberikan laporan atas kajian terhadap Vihara Bahtra Sasana tahun 2019 sehingga dilakukan pemugaran vihara.
“Pelaksanaan pemugaran vihara Bahtra Sasana dilakukan dengan motif dan corak yang sama dengan bahan yang kondisional, mengingat barang asli sudah rusak dan lapuk, ” sebut Wimy. (rul)