Zonakepri.com – Fenomena childfree atau keputusan sebagian perempuan untuk menikah tanpa memiliki anak kini menjadi perhatian serius pemerintah.
Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Republik Indonesia, Wihaji, mengungkapkan bahwa alasan utama munculnya pilihan tersebut bukan semata karena gaya hidup, melainkan karena ketidaktersediaan sistem pengasuhan anak yang memadai di tengah tuntutan kerja masyarakat modern.
“71 ribu perempuan Indonesia yang ingin menikah tapi tidak ingin punya anak. Mereka bilang, ‘Ribet, Pak, saya mau kerja, tapi yang ngasuh enggak ada. Ibu saya masa jadi pembantu?’ Nah, ini jawabannya salah satunya,” ujar Wihaji.
Menanggapi hal itu, pemerintah menghadirkan solusi melalui program Tamasya atau Taman Asuh Sayang Anak, yang dikelola oleh Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga.
Hingga kini, tercatat sudah ada 3.202 Tamasya di berbagai daerah sebagai bagian dari upaya mendukung keluarga muda, terutama di kawasan perkotaan.
Menurut Wihaji, keberadaan Tamasya merupakan bentuk nyata kehadiran negara untuk menjawab keresahan para orang tua yang bekerja.
“Negara hadir, pemerintah hadir. Kami ingin memastikan anak-anak yang diasuh memiliki pola pengasuhan yang tepat, dan pengasuhnya pun mendapat sertifikasi pola asuh agar tidak menimbulkan masalah di kemudian hari,” jelasnya.
Ia menambahkan, program Tamasya memiliki tiga tujuan utama. Pertama, memastikan anak-anak mendapatkan pengasuhan yang baik dan terukur.
Kedua, memberikan rasa aman bagi ibu dan bapak yang bekerja agar anaknya tetap terurus dengan layak. Ketiga, memperkuat bina keluarga balita agar anak-anak tetap tumbuh sehat dan bahagia meski orang tua sibuk bekerja.
Salah satu contoh keberhasilan program ini terlihat di Tamasya Asri di Kota Tanjungpinang yang dikelola secara swasta namun tetap berada dalam pembinaan kementerian.
“Kami lihat di sini luar biasa, ada 40 anak usia 5 sampai 6 bulan yang diasuh dengan sangat baik. Bahkan sebelum dijemput orang tua, semua sudah dimandikan. Ini contoh pengasuhan yang berkualitas,” kata Wihaji.
Ia juga menegaskan bahwa meski sebagian Tamasya berbayar karena dikelola swasta, pemerintah tetap menyediakan banyak Tamasya gratis melalui kerja sama dengan pemerintah daerah dan provinsi.
“Dengan program ini, kami berharap tidak ada lagi alasan bagi para perempuan untuk takut memiliki anak karena kendala pengasuhan. Anak-anak adalah generasi masa depan Indonesia, dan tugas kita bersama memastikan mereka tumbuh dalam lingkungan yang penuh kasih dan perhatian,” pungkasnya.(Ki)
Editor : Zul