Tanjungpinang-Bintan Alami Kekeringan, BMKG : Berpotensi Karhutla dan Kekurangan Air Bersih

Zonakepri.com-Dalam beberapa bulan  terakhir, cuaca panas terik menyelimuti wilayah Tanjungpinang-Bintan dengan suhu saat ini mencapai 32,4 derajat Celcius.

Kondisi curah hujan yang berada di bawah normal sejak bulan Januari hingga Dasarian II Maret 2026 mengindikasikan adanya kekeringan meteorologis di sebagian besar wilayah Pulau Bintan.

Kondisi kekeringan meteorologis yang berlanjut ini dapat berkembang menjadi kekeringan hidrologis yang ditandai dengan penurunan debit sungai, berkurangnya cadangan air tanah, dan menurunnya volume tampungan air/waduk.

Kepala BMKG Bandara RHF Tanjungpinang Ahmad Kosasih menjelaskan dampak lanjutan yang perlu diwaspadai adalah meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan serta berkurangnya ketersediaan air bersih bagi masyarakat.

“BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan, tidak melakukan pembakaran lahan secara sembarangan, dan menggunakan air secara bijak mengingat kondisi cuaca yang cenderung kering,”ujarnya 25 Maret 2026.

Ahmad Kosasih mengatakan Pemerintah daerah juga diharapkan dapat meningkatkan kesiapsiagaan dengan memantau informasi Hari Tanpa Hujan (HTH) dan peringatan dini karhutla dari BMKG guna mengoptimalkan langkah mitigasi, terutama menjelang periode peralihan menuju puncak musim hujan pada April-Mei.

Informasi cuaca dan iklim terkini dapat dipantau melalui aplikasi InfoBMKG atau laman resmi https://www.cuaca.bmkg.go.id dan https://iklim.bmkg.go.id

Secara klimatologis, pola musim di wilayah Kepulauan Riau masih relatif sama dalam beberapa tahun terakhir.

Berdasarkan prakiraan cuaca, khusus untuk tahun ini, terdapat kecenderungan musim kemarau datang lebih awal, berlangsung lebih lama, dan kondisi yang lebih kering dibandingkan normalnya.

Ahmad Kosasih menyebutkan, secara umum, kondisi cuaca di wilayah Kota Tanjungpinang dalam beberapa waktu terakhir didominasi oleh cuaca cerah hingga berawan, dengan kejadian hujan yang relatif jarang dan bersifat lokal serta berintensitas ringan.

Kondisi ini dipengaruhi oleh suhu muka laut di wilayah utara Kepulauan Riau yang cenderung netral hingga sedikit lebih dingin dari normalnya, sehingga pasokan uap air ke atmosfer berkurang. Selain itu, kelembapan udara pada lapisan atas juga relatif kering, yang menghambat pertumbuhan awan hujan.

Faktor lain yang turut berpengaruh adalah aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) yang saat ini berada pada fase suppressed di wilayah Pulau Bintan dan sekitarnya, yaitu kondisi di mana aktivitas pembentukan awan hujan sedang melemah sehingga peluang terjadinya hujan menjadi lebih kecil.

Sementara itu, fenomena global seperti El Niño dan La Niña serta Indian Ocean Dipole (IOD) berada pada kondisi netral dan tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap cuaca di wilayah ini.

Berdasarkan prakiraan BMKG, kondisi cuaca di Tanjungpinang pada periode 25 Maret hingga 2 April 2026 masih didominasi cerah hingga berawan, namun terdapat peluang hujan yang relatif kecil pada sekitar tanggal 29 Maret hingga 2 April.

Untuk prakiraan curah hujan bulanan, pada April diperkirakan berada pada kategori menengah dengan kisaran sekitar 50–150 mm per bulan, kemudian meningkat pada Mei dengan kategori menengah hingga tinggi yaitu sekitar 100–200 mm per bulan, dan kembali menurun pada Juni namun masih dalam kategori menengah dengan kisaran sekitar 75–150 mm per bulan.

Menurutnya, peluang hujan akan mulai meningkat secara bertahap memasuki bulan April hingga mencapai puncaknya pada April–Mei. (Rul)

 

 

Alami kekeringanBMKG Bandara RHF TanjungpinangPotensi karhutla dan kekurangan airTanjungpinang Bintan
Comments (0)
Add Comment