Zonakepri.com-Pulau Bintan meliputi Kota Tanjungpinang dan Kabupaten Bintan saat ini belum terdampak kembali asap kiriman dari Sumatera maupun Kalimantan.
Prakirawan BMKG Tanjungpinang Hayu Nur Mahron menyebutkan berdasarkan pemantauan Citra Satelit Himawari pada Rabu 9 September 2026 pukul 16.00 WIB, hingga saat ini wilayah Pulau Bintan belum terindikasi lagi terdampak kabut asap kiriman dari wilayah Sumatera maupun Kalimantan.
Dengan demikian, kondisi kabut asap yang berasal dari kedua wilayah tersebut belum lagi terlihat memberikan pengaruh terhadap Pulau Bintan pada saat pemantauan dilakukan. Meski seminggu yang lalu, Kota Tanjungpinang terdampak kiriman asap dari Sumatera.
Namun demikian, masyarakat tetap perlu mewaspadai potensi munculnya kabut asap lokal.
Berdasarkan pemantauan titik panas (hotspot) dan laporan kejadian kebakaran dari BPBD, masih terdapat indikasi kebakaran lahan/hutan di sejumlah wilayah Pulau Bintan.
Kondisi tersebut berpotensi menghasilkan asap dan, apabila kebakaran meluas serta berlangsung dalam waktu yang lebih lama, dapat menyebabkan penurunan kualitas udara di wilayah sekitarnya.
Berdasarkan pembaruan data hotspot pada 9 September 2026 pukul 16.50 WIB, teridentifikasi 7 titik hotspot yang tersebar dalam 4 cluster dengan tingkat kepercayaan kategori Sedang.
Sebaran tersebut berada di beberapa wilayah, yaitu:
• Sebong Pereh: 3 titik
• Kawal: 2 titik
• Gunung Kijang: 1 titik
• Mantang: 1 titik
Sebaran titik hotspot tersebut menunjukkan bahwa potensi kebakaran lahan masih perlu mendapat perhatian, khususnya karena kondisi cuaca dalam beberapa hari terakhir relatif kering dan tiupan angin relatif kencang.
Kondisi cuaca yang relatif kering dalam beberapa hari terakhir, ditambah dengan masih adanya kejadian kebakaran lahan/hutan, dapat meningkatkan potensi penurunan kualitas udara.
Berdasarkan data pemantauan PM2,5 yang tersedia di wilayah Batam, konsentrasi PM2,5 berada pada kategori Sedang.
“Informasi ini menjadi salah satu indikator bahwa partikel udara masih perlu mendapat perhatian, khususnya ketika aktivitas kebakaran meningkat,”sebutnya.
Sementara itu, berdasarkan hasil pengamatan alat observasi di Stasiun Meteorologi Kelas II Raja Haji Fisabilillah yang berada di Bandara Raja Haji Fisabilillah Tanjungpinang, jarak pandang mendatar saat ini masih berada pada kisaran 9–10 kilometer. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa secara umum jarak pandang di wilayah Tanjungpinang masih cukup baik dan belum menunjukkan penurunan signifikan akibat asap serta tidak mengganggu operasional penerbangan di Bandara RHF Tanjungpinang.
Sementara itu, kondisi cuaca terkini di Pulau Bintan secara umum dalam beberapa hari terakhir didominasi oleh cuaca cerah hingga berawan, dengan kondisi tidak tercatat hujan.
Namun demikian, pada hari ini, 9 September 2026, hujan ringan hingga sedang terjadi secara lokal di wilayah pesisir utara Kecamatan Teluk Sebong, Kabupaten Bintan. Hujan tersebut berlangsung dalam durasi singkat pada siang hari.
“Untuk tiga hari ke depan, kondisi cuaca di wilayah Pulau Bintan diprakirakan masih didominasi cerah hingga berawan. Namun demikian, terdapat peningkatan potensi hujan ringan hingga sedang yang dapat disertai kilat/petir dan berskala lokal, terutama pada akhir pagi hingga siang hari tanggal 10–12 September 2026,”paparnya.
Potensi hujan tersebut dipengaruhi oleh adanya belokan angin (shearline) di atmosfer yang menyebabkan perlambatan dan penumpukan massa udara. Kondisi ini didukung oleh kelembapan udara yang relatif cukup basah, sehingga meningkatkan peluang terbentuknya awan-awan hujan.
Angin permukaan diprakirakan bertiup dari arah Tenggara hingga Selatan dengan kecepatan sekitar 5–25 km/jam. Suhu udara diprakirakan berada pada kisaran 25–33°C. Untuk kondisi perairan, tinggi gelombang di sekitar Perairan Pulau Bintan dalam tiga hari ke depan diprakirakan berkisar antara 0,5–1,25 meter yang termasuk dalam kategori rendah.
BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan, mengingat kondisi cuaca yang relatif kering serta adanya angin yang dapat membantu penyebaran api dan asap.
Masyarakat juga diimbau untuk tetap memperhatikan perubahan cuaca yang dapat terjadi dengan cepat, khususnya ketika beraktivitas di luar ruangan maupun di wilayah perairan.
“Pada bulan September ini, hujan yang bersifat lokal dapat terjadi secara tiba-tiba dan dalam waktu singkat, termasuk potensi hujan yang disertai kilat atau petir,”pesannya.
Masyarakat dapat memperoleh informasi cuaca terkini melalui aplikasi InfoBMKG, laman resmi BMKG di https://cuaca.bmkg.go.id, https://stamet-tanjungpinang.bmkg.go.id,https://iklim.bmkg.go.id, serta media sosial resmi BMKG Tanjungpinang melalui Instagram @stamet.tanjungpinang.bmkg (rul)