Zonakepri.com-Upaya memperkuat penyelenggaraan pendidikan inklusif melalui pemanfaatan teknologi terus dikembangkan.
Tim peneliti melaksanakan kegiatan “Pengembangan Model Manajemen Kolaboratif Berbasis Artificial Intelligence (AI) untuk Penguatan Pendidikan Inklusif di SMP Negeri 10 Tanjungpinang” yang dilaksanakan pada 3 September 2026.
Hal ini sebagai bagian dari upaya menghadirkan tata kelola pendidikan inklusif yang lebih kolaboratif, adaptif, berbasis data, dan berorientasi pada kebutuhan peserta didik.
Hadir dalam kegiatan ini, Muhammad Yunus selaku Ketua Tim Peneliti, Muliawiwin dan Muslim sebagai anggota tim, serta unsur manajemen SMP Negeri 10 Tanjungpinang yang diwakili Ardiana Fitriani selaku Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum dan Gigih Harpuas selaku Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan.
Kegiatan ini juga melibatkan guru, orang tua, dan siswa sebagai pemangku kepentingan utama dalam penyelenggaraan pendidikan inklusif di sekolah.
Pengembangan model Manajemen Kolaboratif Berbasis Artificial Intelligence (AI) dilatarbelakangi pentingnya membangun sistem pendidikan inklusif yang tidak hanya menempatkan peserta didik dengan beragam kebutuhan dalam lingkungan belajar yang sama, tetapi juga memastikan tersedianya layanan pendidikan yang sesuai dengan karakteristik, kemampuan, dan kebutuhan individual setiap siswa.
Keberhasilan pendidikan inklusif memerlukan keterlibatan aktif berbagai pihak, mulai dari manajemen sekolah, guru, orang tua, peserta didik hingga pihak-pihak pendukung lainnya.
Ketua Tim Peneliti, Muhammad Yunus, menjelaskan bahwa pendekatan kolaboratif menjadi salah satu unsur penting dalam model yang sedang dikembangkan. Sekolah tidak dapat menjalankan pendidikan inklusif hanya dengan mengandalkan satu pihak.
“Diperlukan mekanisme kerja yang memungkinkan kepala sekolah, guru, orang tua, siswa, serta pemangku kepentingan lainnya untuk berbagi informasi, berkoordinasi, mengambil keputusan, dan melakukan pemantauan perkembangan peserta didik secara berkelanjutan,”sebutnya, Senin 7 September 2026.
Dalam model tersebut, Artificial Intelligence (AI) dirancang bukan untuk menggantikan peran guru maupun pengambilan keputusan manusia, melainkan sebagai teknologi pendukung yang membantu sekolah dalam mengelola informasi dan meningkatkan kualitas layanan pendidikan.
“Pemanfaatan AI diarahkan untuk mendukung pengelolaan data pendidikan inklusif, membantu pemantauan perkembangan peserta didik, memberikan informasi pendukung bagi pembelajaran yang lebih terdiferensiasi, serta memperkuat komunikasi dan koordinasi antarpemangku kepentingan,”paparnya.
Keterlibatan guru menjadi sangat penting karena guru berinteraksi secara langsung dengan peserta didik dalam proses pembelajaran. Melalui kegiatan ini, pengalaman dan kebutuhan guru menjadi salah satu sumber informasi untuk mengembangkan model yang realistis dan dapat diterapkan sesuai kondisi sekolah.
Sementara itu, keterlibatan orang tua diperlukan untuk memperoleh gambaran yang lebih komprehensif mengenai kebutuhan, perkembangan, dan karakteristik peserta didik. Kolaborasi yang baik antara sekolah dan keluarga diharapkan dapat memperkuat kesinambungan pendampingan peserta didik, baik di lingkungan sekolah maupun di rumah.
Tidak kalah pentingnya, siswa juga dilibatkan dalam proses pengembangan model. Perspektif siswa diperlukan agar sistem yang dikembangkan benar-benar berorientasi pada pengalaman belajar peserta didik, menciptakan rasa aman dan diterima, serta mendukung terbangunnya budaya sekolah yang menghargai keberagaman.
Ardiana Fitriani, selaku Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum, bersama unsur guru memiliki posisi strategis dalam memberikan masukan mengenai implementasi kurikulum, proses pembelajaran, asesmen, serta kebutuhan diferensiasi pembelajaran.
Sedangkan Gigih Harpuas, selaku Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, berperan penting dalam memberikan perspektif terkait pembinaan peserta didik, interaksi sosial, layanan kesiswaan, serta penciptaan lingkungan sekolah yang ramah dan inklusif.
“Kegiatan ini sekaligus menjadi ruang dialog antara tim peneliti dan warga sekolah untuk mengidentifikasi kondisi nyata penyelenggaraan pendidikan inklusif, kebutuhan masing-masing pemangku kepentingan, pola koordinasi yang telah berjalan, berbagai kendala yang masih dihadapi, serta peluang pemanfaatan teknologi AI dalam mendukung pengelolaan pendidikan inklusif,”ujarnya.
Melalui proses tersebut, penelitian diharapkan menghasilkan model manajemen kolaboratif berbasis AI yang valid, praktis, dan efektif, serta sesuai dengan karakteristik SMP Negeri 10 Tanjungpinang. Model yang dikembangkan diharapkan mampu memperkuat koordinasi antarpemangku kepentingan, meningkatkan kualitas pengelolaan data, membantu monitoring perkembangan peserta didik, serta mendukung pengambilan keputusan pendidikan yang lebih cepat dan berbasis informasi.
Pengembangan model juga menempatkan prinsip human-centred AI sebagai bagian penting dalam penerapan teknologi. Artinya, keputusan pendidikan tetap berada pada guru, sekolah, orang tua, dan tenaga profesional terkait, sedangkan teknologi berfungsi memberikan dukungan informasi dan analisis. Prinsip privasi, keamanan data, keadilan, transparansi, serta perlindungan hak peserta didik menjadi perhatian dalam pengembangan sistem.
Kegiatan di SMP Negeri 10 Tanjungpinang ini merupakan salah satu langkah untuk memperkuat sinergi antara penelitian perguruan tinggi, inovasi teknologi pendidikan, dan kebutuhan nyata sekolah. Melalui kolaborasi tersebut, hasil penelitian diharapkan tidak berhenti pada pengembangan konsep, tetapi dapat menghasilkan solusi yang operasional dan memberikan manfaat langsung dalam meningkatkan kualitas layanan pendidikan inklusif.
Ke depan, proses penelitian akan dilanjutkan melalui pengembangan dan penyempurnaan model, validasi oleh para ahli, diskusi bersama pemangku kepentingan, uji implementasi, serta evaluasi terhadap kepraktisan dan efektivitas model.
Melalui Pengembangan Model Manajemen Kolaboratif Berbasis Artificial Intelligence (AI) ini, SMP Negeri 10 Tanjungpinang diharapkan dapat menjadi salah satu lingkungan pendidikan yang semakin inklusif, adaptif, kolaboratif, berbasis teknologi, dan berpusat pada kebutuhan setiap peserta didik, sekaligus menjadi contoh pengembangan praktik pendidikan inklusif yang relevan dengan transformasi pendidikan di era kecerdasan artifisial. (SMPN 10)







