Zonakepri.com – Peristiwa yang menimbulkan kehebohan di media sosial terjadi di Bandara Raja Haji Fisabilillah (RHF) Tanjungpinang, Kamis (29/5/2025).
Seorang wanita bernama Evi, mengalami perlakuan tidak menyenangkan yang mengarah pada dugaan diskriminasi rasial saat menjemput adiknya di area bandara.
Kejadian bermula ketika Evi didatangi oleh beberapa pengemudi taksi bandara yang menuduhnya sebagai sopir taksi online.
Situasi semakin memanas ketika salah satu dari mereka mengomentari perbedaan fisik antara Evi dan adiknya dengan menyebut, “Kakaknya ‘Chines’, tapi adiknya kok pribumi?” yang diduga terlontar secara spontan namun menyinggung aspek sensitif identitas.
Menanggapi hal tersebut, Evi menegaskan bahwa insiden tersebut telah diselesaikan secara damai melalui proses mediasi bersama aparat kepolisian dan pihak pengelola bandara.
Ia juga mengucapkan terima kasih atas dukungan media serta respons cepat dari pihak terkait.
“Alhamdulillah, kita sudah duduk bersama dan menyelesaikan ini secara kekeluargaan. Pihak yang bersangkutan juga mengakui kekeliruannya, dan saya secara pribadi memohon maaf apabila keramaian di media sosial sempat membuat masyarakat resah. Semoga kita semua bisa mengambil pelajaran agar ke depan tidak terjadi lagi hal serupa,” tutur Evi.
Sementara itu, Rendy, sopir taksi yang terlibat, menyampaikan klarifikasi bahwa kejadian tersebut hanya kesalahpahaman. Ia menegaskan tidak ada niatan membawa isu SARA dalam situasi itu.
“Kami hanya salah sangka. Tidak ada niat menyinggung secara rasial. Mungkin karena suasana saat itu kurang kondusif. Tapi sekarang semuanya sudah clear dan diselesaikan dengan baik,” ujarnya.
Ketua Asparnas Kepri, Mulyadi Tan, menyampaikan keprihatinannya atas kejadian ini.
Menurutnya, insiden semacam ini bisa berdampak negatif terhadap citra pariwisata, apalagi Tanjungpinang dikenal sebagai gerbang wisata Kepulauan Riau.
“Kami telah menjalin komunikasi dengan pengelola bandara dan Danlanud Tanjungpinang untuk mencari jalan keluar yang bijaksana. Asparnas akan terus mendorong agar prinsip pelayanan yang adil dan menghargai keberagaman tetap dijaga,” ungkapnya.
Dari pihak Bandara RHF, Kepala Departemen Keamanan dan Layanan, Rudy Sudrajat, menyatakan bahwa pihaknya telah menyampaikan permintaan maaf atas ketidaknyamanan yang dialami korban dan menegaskan bahwa kejadian ini menjadi perhatian serius untuk dilakukan evaluasi.
“Kami telah menindaklanjuti masalah ini dan berharap kedua belah pihak bisa bertemu langsung untuk menyelesaikannya dengan hati terbuka,” pungkas Rudy. (Ki)






