Tanjungpinang

Kabut Asap Melanda Tanjungpinang, BMKG : Jarak Pandang Mendatar 1000 Meter 

×

Kabut Asap Melanda Tanjungpinang, BMKG : Jarak Pandang Mendatar 1000 Meter 

Sebarkan artikel ini
Kabut asap terlihat di ruas jalanan Kota Tanjungpinang

Zonakepri.com-Hujan disertai petir melanda Tanjungpinang dalam dua hari berturut turut, Minggu 27 September hingga Senin 28 September 2026.

Sumur sumur warga yang telah mengering, mulai terisi lagi berkat hujan yang turun dalam dua hari ini.

Cuaca mendung disertai kabut asap yang tebal terlihat sangat jelas di kawasan Kota Tanjungpinang saat ini.

Berdasarkan hasil pengamatan alat observasi di Stasiun Meteorologi Kelas II Raja Haji Fisabilillah yang berada di Bandara Raja Haji Fisabilillah Tanjungpinang, jarak pandang mendatar saat ini (pukul 15.00 WIB) berada pada kisaran 1 – 2,5 kilometer.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa secara umum jarak pandang di wilayah Tanjungpinang mengalami penurunan visibility/jarak pandang. Kondisi terjadinya asap dapat mengganggu berlangsungnya operasional penerbangan di bandara terutama pada jarak pandang mencapai < 5 km.

Prakirawan BMKG Tanjungpinang Muhammad Fadris Dwiandoko menyebutkan peningkatan curah hujan khususnya di wilayah Kota Tanjungpinang dan Kabupaten Bintan tidak dapat menjadi indikator utama pengurangan sebaran kabut asap di wilayah Pulau Bintan.

Hal tersebut masih sangat bergantung pada kondisi kebakaran hutan/ lahan di wilayah Sumatera dan Kalimantan, serta kondisi arah pergerakan angin di sekitar wilayah Kepulauan Riau.

Berdasarkan pemantauan Citra Satelit Himawari pada tanggal 28 September 2026 pukul 13.00 WIB, wilayah Kepulauan Riau termasuk wilayah Kabupaten Bintan dan Kota Tanjungpinang termasuk kedalam wilayah yang terindikasi terdampak kabut asap kiriman dari wilayah Sumatera dan Kalimantan.

“Berdasarkan alat pengamatan cuaca yang terpasang di beberapa wilayah Kepulauan Riau, sebaran kabut asap terpantau mulai terjadi sejak pagi hari pukul 09.00 WIB,”terangnya, Senin 28 September 2026.

Sebaran kabut asap di wilayah Kepulauan Riau disebabkan oleh pergerakan angin yang bergerak dari arah Tenggara – Selatan menuju ke Utara membawa kabut asap dari wilayah Sumatera dan Kalimantan menuju ke wilayah Kepulauan Riau.

Wilayah Kepulauan Riau yang paling sering mendapat kiriman kabut asap dari wilayah Sumatera dan Kalimantan sejak tanggal 25 Agustus 2026 di wilayah Kabupaten Anambas dan Natuna.

“Masyarakat diimbau untuk tetap waspada terhadap potensi asap dampak dari karhutla di wilayah Sumatera dan Kalimantan yang dapat mengganggu jarak pandang dan menurunkan kualitas udara serta masyarakat juga diharapkan waspada untuk tetap memperhatikan perubahan cuaca yang dapat terjadi dengan cepat, khususnya ketika beraktivitas di luar ruangan maupun di wilayah perairan,”pesannya.

Berdasarkan data pemantauan PM2,5 yang tersedia di wilayah Batam, konsentrasi PM2,5 tanggal 28 September 2026 berada pada kategori Tidak Sehat yang mencapai nilai 74,9 µg/m³ pada pukul 13.00 WIB.

Prospek Cuaca Tanjungpinang dan Kabupaten Bintan

Secara umum, kondisi cuaca di Kota Tanjungpinang dan Kabupaten Bintan hingga 3 (tiga) hari ke depan (29 September – 1 Oktober 2026) diprakirakan masih didominasi oleh cuaca berawan tebal,

dan terdapat potensi hujan ringan hingga sedang yang dapat disertai petir/kilat serta angin kencang pada siang hingga sore hari.

Sementara itu kondisi angin permukaan bertiup dari arah Tenggara – Barat Daya dengan kecepatan 05 – 25 km/jam dengan suhu udara diprakirakan berkisar antara 24°C hingga 32°C.

Secara meteorologis, kondisi tersebut dipengaruhi oleh aktivitas Gelombang Ekuator Rossby di sekitar wilayah Sumatera hingga ke wilayah Kepulauan Riau turut berkontribusi dalam meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan di sekitar wilayah Pulau Bintan.

Selain itu, terpantaunya daerah belokan angin (shearline) di wilayah Pulau Bintan menyebabkan perlambatan massa udara dan berkontribusi terhadap pertumbuhan awan-awan konvektif penghasil hujan. Kondisi suhu muka laut yang masih hangat, berkisar antara 29 – 30°C dengan anomali negatif ke positif sekitar -0,5 – 1,0°C menyebabkan peningkatan uap air ke atmosfer, nilai kelembapan udara yang relatif basah pada atmosfer lapisan permukaan hingga menengah dengan nilai 70 – 90% dan kondisi labilitas atmosfer yang berada pada kategori labil sedang masih cukup untuk berkontribusi terhadap pertumbuhan awan konvektif tersebut.

Sedangkan berdasarkan pemantauan data hotspot pada tanggal 28 September 2026 tidak teridentifikasi adanya titik panas di sekitar wilayah Pulau Bintan.

Meskipun demikian, masyarakat tetap perlu mewaspadai potensi munculnya kabut asap lokal.

Berdasarkan pemantauan titik panas (hotspot) dan laporan kejadian kebakaran dari BPBD juga masih terdapat indikasi kebakaran lahan/hutan di sejumlah wilayah Pulau Bintan. Kondisi tersebut berpotensi menghasilkan asap dan, apabila kebakaran meluas serta berlangsung dalam waktu yang lebih lama, dapat menyebabkan penurunan kualitas udara di wilayah sekitarnya.

Informasi cuaca terkini dapat diperoleh melalui aplikasi InfoBMKG serta laman resmi BMKG di https://cuaca.bmkg.go.id, https://stamet-tanjungpinang.bmkg.go.id, https://iklim.bmkg.go.id, serta media sosial resmi BMKG Tanjungpinang melalui Instagram @stamet.tanjungpinang.bmkg. (rul)