
Tanjungpinang, Zonakepri-Pada Jumat 23 September 2022, terlihat beberapa pedagang yang sebelumnya berjualan di Pasar Baru dan Pasar Ikan KUD menempati Pasar relokasi di BT 7 Tanjungpinang yang diberi nama Pasar Relokasi Puan Ramah.
Dari sejumlah pedagang yang baru menempati Pasar relokasi yang hari ini diresmikan Walikota, ada yang mengaku kecewa dengan lapak jualan, ada yang menerima dengan sabar dan mensyukuri apa yang diberikan Pemko Tanjungpinang.
Pedagang cabe, bawang merah dan sejenisnya Abdul Rahman mengaku dirinya telah berjualan di Pasar Baru Tanjungpinang sejak 1997 menerima apa adanya kondisi tempat jualan termasuk lapak di Pasar Relokasi Puan Ramah. “Syukuri saja, kan hanya untuk sementara. Demi pelaksanaan pembangunan Pasar Baru Tanjungpinang yang rusak, ” Sebutnya ditemui Jumat 23 September 2022.
Menurutnya, berjualan di Pasar Relokasi Puan Ramah hanya dipungut biaya Rp200 ribu sebulan dan tidak ada membayar sewa lapak jualan pernah tahun. Sebelumya, selama berjualan di pasar baru Tanjungpinang harus membayar sewa pertahun dan membayar biaya hari per lapak Rp6000. Untuk 3 lapak jualan maka membayar Rp18 ribu per hari, “ungkapnya.
Sementara itu, untuk transportasi berjualan dari tempat tinggal menuju ke Pasar Relokasi Puan Ramah tidak terlalu membebani. Mengingat tempat tinggal Abdul Rahman sekeluarga di KM 5 Tanjungpinang.
Lain halnya dengan seorang penjual ayam potong yang menempati lapak jualan di Pasar Relokasi Puan Ramah bernama Kateno ini. “Bagaimana lapak jualan ayam potong terbuat dari GRC . Mungkin tak sampai jualan selama 2 tahun sudah rusak. Dinding penyekat antar pedagang satu dengan lainnya berupa triplek. Harusnya untuk penjual ayam potong diberi lapak jualan berupa keramik atau cor. Sehingga jika ada kotoran ayam berupa daging ayam atau darah ayam mudah dibersihkan,” Keluhnya.
Apalagi untuk membuang air bekas cuci tangan atau membersihkan lapak jualan tidak disediakan pipa saluran air pembuangan. Akibatnya air tergenang di sekitar penjual bediri. Hal ini lama kelamaan menimbulkan bau tak sedap.
“Terpaksa untuk membersihkan lapak jualan yang terbuat dari GRC hanya dilap pakai kain saja. Namun hal ini tentu kurang bersih dan masih menimbulkan bau sisa daging atau darah ayam potong, “tandasnya.
Sementara itu pedagang bumbu dapur siap masak dan bawang merah sejenisnya yang sebelumnya berjualan di Pasar Ikan mengaku harus mengeluarkan biaya ekstra untuk transportasi berjualan Pasar Relokasi Puan Ramah. Pasalnya, barang jualan miliknya didatangkan dari pelabuhan di sekitar kawasan Pasar Ikan KUD. “Mau tak maulah berjualan di Pasar Relokasi Puan Ramah. Agar Pasar yang rusak bisa dibangun, ” ujar Karim.
Menurutnya, lapak jualan dengan ukuran panjang 1,20 meter x 0,8 m kurang memadai untuk jualan per pedagang. “Terlalu sempit untuk berjualan. Terpaksa sedikit saja barang jualan yang dipajang nantinya, ” keluhnya.
Pantauan di Pasar Relokasi Puan Ramah Km 7 Tanjungpinang masih ada pedagang yang belum pindah dan belum menempati lapak jualan. Bahkan pedagang daging maupun pedagang ikan belum ada satupun yang menempati kios yang disediakan Pemko Tanjungpinang pada Jumat 23 September 2022 sekitar pukul 12.00 Wib. (rul)












