Zonakepri.com – Bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah tahun 2026 bertepatan dengan perayaan Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili, warga RW 10 Kampung Teladan, Kelurahan Kemboja, Kota Tanjungpinang membangun gapura yang diberi nama “Gapura Toleransi Beragama”.
Gapura tersebut berdiri di area Surau Al-Mujahiddin sebagai simbol persatuan dan kebersamaan antarumat beragama.
Ketua Pengurus Surau Al-Mujahiddin, Moses Januarli, menyampaikan rasa syukur atas terwujudnya gapura tersebut.
Menurutnya, momen Ramadhan tahun ini terasa sangat istimewa karena beriringan dengan perayaan Imlek, sehingga menjadi pengingat pentingnya saling menghormati dalam kehidupan bermasyarakat.
“Alhamdulillah, tahun ini kita mendapatkan satu hal yang sangat bermakna, yaitu persatuan dalam perbedaan. Ramadhan berdampingan dengan Tahun Baru Imlek, sudah pasti kita harus saling menghormati, menghargai, dan menjaga satu sama lain sebagai bentuk kebersamaan dalam umat beragama,” ujarnya, Kamis (19/2/2026).
Ia juga berharap momentum ini dapat menjadi penyemangat bagi jamaah untuk meningkatkan kualitas ibadah selama bulan suci, baik ibadah wajib maupun sunnah.
Menurutnya, nilai toleransi yang terbangun di tengah masyarakat juga sejalan dengan semangat Ramadhan yang mengajarkan kesabaran, kepedulian, dan persaudaraan.
Sementara itu, Ketua RW 010 Kelurahan Kemboja, Basti Triyansah, mengaku bangga melihat kekompakan warganya. Ia menilai kehadiran Gapura Toleransi Beragama bukan sekadar pembangunan fisik, melainkan simbol nyata keharmonisan yang terjalin di Kampung Teladan.
“Saya merasa bangga melihat warga dapat bertoleransi, saling menghormati, menghargai, dan menjaga kebersamaan. Apalagi tahun ini sangat spesial karena bulan suci Ramadhan 1447 H berdampingan dengan Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili atau tahun 2026 Masehi,” katanya.
Basti menjelaskan, pembangunan gapura tersebut sepenuhnya berasal dari sumbangan warga.
Awalnya, gagasan itu hanya sebatas cerita ringan antarwarga, namun berkat semangat kebersamaan, ide tersebut berhasil direalisasikan dengan baik.
“Bahkan, pembangunan itu mendapat respons positif dari seluruh lapisan masyarakat, baik warga Tionghoa maupun Muslim,” lanjut Basti.
Ia menegaskan bahwa gapura tersebut tidak dibangun atas nama RT, RW, ataupun pengurus surau semata, melainkan murni atas dasar kekeluargaan dan kebersamaan antarwarga Kampung Teladan.
“Intinya, gapura ini terbentuk karena rasa kekeluargaan. Ini bukti bahwa jika kita kompak dan saling mendukung, hal baik bisa terwujud. Harapan saya, kegiatan positif dan kekompakan seperti ini dapat terus terjalin selamanya,” pungkasnya.
Basti menyebut keberadaan Gapura Toleransi Beragama di Kampung Teladan diharapkan tidak hanya menjadi penanda datangnya bulan suci dan perayaan Imlek, tetapi juga menjadi simbol kuat bahwa keberagaman di Kota Tanjungpinang dapat terus dirawat dalam semangat persaudaraan dan persatuan.(Ki)






