Tanjungpinang

Sekolah Rakyat Tanjungpinang Kurang Guru Agama, Bahasa Inggris dan Seni Budaya

×

Sekolah Rakyat Tanjungpinang Kurang Guru Agama, Bahasa Inggris dan Seni Budaya

Sebarkan artikel ini
Kepala Sekolah Rakyat Tanjungpinang, Reni Putri Rahmadani

Zonakepri.com – Sekolah Rakyat Tanjungpinang yang hadir untuk memberikan akses pendidikan bagi anak-anak putus sekolah, hingga kini masih menghadapi persoalan mendasar, yakni kekurangan tenaga pendidik di sejumlah bidang.

Kepala Sekolah Rakyat Tanjungpinang, Reni Putri Rahmadani mengungkapkan bahwa saat ini sekolah baru memiliki 19 guru. Tenaga pendidik tersebut berasal dari berbagai daerah, yakni empat orang dari Tanjungpinang, satu orang dari Kijang, satu orang dari Lingga, dan 13 lainnya didatangkan dari luar Provinsi Kepulauan Riau.

Meski demikian, Reni menegaskan bahwa sekolah masih membutuhkan tambahan guru di beberapa mata pelajaran penting.

“Yang paling mendesak adalah guru Agama, Bahasa Inggris, dan Seni Budaya. Untuk Bahasa Inggris mungkin bisa ditutupi oleh guru SD yang memang berlatar belakang pendidikan Bahasa Inggris. Tetapi untuk Agama dan Seni Budaya, sampai sekarang kami belum ada yang bisa mengakomodir,” jelasnya.

Sekolah Rakyat Tanjungpinang sendiri menerapkan sistem multi entry–multi exit, yang memungkinkan siswa menamatkan SMP maupun SMA lebih cepat sesuai kemampuan.

Bahkan, selain pendidikan formal, anak-anak juga dibekali keterampilan berbasis kearifan lokal agar bisa mandiri setelah lulus.

Dengan sistem ini, kebutuhan guru menjadi sangat vital. Selain mengajar mata pelajaran umum, guru juga dituntut mampu membimbing siswa dalam menemukan minat dan bakatnya, yang akan diidentifikasi melalui tes talent DNA di awal masuk.

Reni menambahkan, saat ini sekolah tengah melakukan persiapan matrikulasi hingga Desember. Pembelajaran reguler dijadwalkan mulai berjalan pada Januari mendatang. Ia berharap kekurangan guru dapat segera teratasi sebelum tahun ajaran resmi dimulai.

“Kami optimis, insya Allah sampai Desember nanti bisa terpenuhi kebutuhan guru yang masih kurang, sehingga ketika pembelajaran dimulai di Januari, semua bidang studi sudah ada yang membimbing,” pungkasnya.(Ki)