
Zonakepri.com – Alarm kewaspadaan terhadap penyakit menular seksual di Kota Tanjungpinang kembali berbunyi. Dinas Kesehatan Kota Tanjungpinang mengungkapkan, hingga pertengahan tahun ini tercatat 29 kasus sifilis menyerang masyarakat kota ini.
Mirisnya, sebagian besar penderita adalah laki-laki muda dengan rentang usia produktif dan remaja.
Dari data yang dihimpun, sebanyak 24 dari 29 pasien merupakan laki-laki, sedangkan lima sisanya perempuan. Jika dirinci, kasus tertinggi pada pria terjadi di rentang usia 20–24 tahun dengan 8 kasus, disusul usia 15–19 tahun sebanyak 6 orang, lalu 6 orang di usia 30–39 tahun, dan sisanya 4 orang berusia 25–29 tahun.
Sementara pada kelompok perempuan, kasus ditemukan pada usia 25–29 tahun sebanyak 3 orang, kemudian masing-masing satu orang di kelompok usia 30–39 dan 40–49 tahun.
Sifilis, yang dikenal juga dengan sebutan raja singa, adalah infeksi menular seksual (IMS) yang disebabkan oleh bakteri Treponema pallidum.
Penyakit ini umumnya menyebar melalui kontak langsung dengan luka penderita saat melakukan hubungan seksual, baik secara vaginal, anal, maupun oral.
Luka yang muncul sering kali tidak terasa sakit, sehingga banyak penderita tidak menyadari telah tertular.
Subkoordinator Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinas Kesehatan Kota Tanjungpinang, Novi Herliana, menjelaskan bahwa mayoritas kasus ditemukan pada kelompok risiko tinggi, khususnya Lelaki Seks dengan Lelaki (LSL).
Kondisi ini membuat penanganan sifilis harus menyasar langsung edukasi pada kelompok rentan dan lingkungan sekitarnya.
Untuk menekan penyebaran, Dinkes melakukan berbagai langkah strategis.
Salah satunya dengan menggalakkan edukasi seputar IMS, termasuk HIV/AIDS, melalui kegiatan penyuluhan yang menyasar sekolah, komunitas, fasilitas kesehatan, hingga ruang publik.
“Selain itu, kami membuka layanan konsultasi untuk remaja dan orang tua agar mereka bisa memahami pentingnya kesehatan reproduksi dan cara mencegah penularan penyakit ini,” ungkap Novi, 10 Juli 2025.
Tak hanya itu, Dinkes juga menyiapkan fasilitas pemeriksaan yang memungkinkan warga untuk mendapat diagnosis dini dan pengobatan yang sesuai.
Langkah ini dinilai krusial untuk memutus rantai penularan sebelum menyebar lebih luas.
Khusus untuk para orang tua, Novi mengajak agar menciptakan ruang komunikasi yang terbuka di dalam keluarga.
Remaja perlu merasa aman untuk bertanya dan berdiskusi soal masalah seksual tanpa tekanan atau rasa malu.
Pihak sekolah juga didorong aktif menyisipkan materi seputar IMS dalam pelajaran seperti Biologi maupun program UKS.
Dengan begitu, edukasi soal bahaya penyakit seksual bisa dimulai sejak dini.
“Remaja perlu memahami risiko yang mungkin muncul dari perilaku seksual yang tidak sehat. Menjaga kebersihan area pribadi, menggunakan pakaian dalam bersih, dan tidak berbagi barang pribadi seperti handuk adalah langkah sederhana namun penting,” pesannya.
Novi juga menegaskan bahwa remaja atau siapa pun yang merasa memiliki gejala atau sekadar ingin tahu lebih dalam soal IMS, sebaiknya segera berkonsultasi ke puskesmas atau layanan kesehatan terdekat.
“Deteksi dini akan sangat membantu proses penyembuhan dan mencegah penularan lebih lanjut,” pungkasnya. (Ki)












