Zonakepri.com – Mahasiswa Tanjungpinang-Bintan menggelar kegiatan nonton bareng (nobar) dan diskusi film dokumenter Pesta Babi yang diinisiasi oleh Ruang Pikir Mahasiswa STAIN Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau Angkatan 2025, Jumat malam (17/05/2026) di Km 8 Tanjungpinang.
Kegiatan tersebut dihadiri puluhan mahasiswa dari berbagai organisasi, mulai dari organisasi mahasiswa Cipayung Plus, organisasi mahasiswa kedaerahan, hingga organisasi internal kampus. Diskusi berlangsung aktif dengan membahas berbagai isu sosial, lingkungan, dan dampak pembangunan terhadap masyarakat.
Inisiator kegiatan sekaligus Koordinator Umum Aliansi Mahasiswa STAIN Angkatan 2025, Awalludin Rahmadi, menyampaikan apresiasi kepada seluruh mahasiswa yang telah hadir dan ikut terlibat dalam forum diskusi tersebut.
“Saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh elemen mahasiswa Tanjungpinang dan Bintan yang telah membersamai kegiatan nobar dan diskusi film Pesta Babi. Kegiatan ini berjalan dengan baik dan dihadiri sekitar 70 peserta yang aktif berdiskusi serta bertukar gagasan,” ujarnya.
Menurutnya, kegiatan tersebut bukan sekadar agenda menonton film bersama, melainkan ruang belajar kolektif untuk membangun kesadaran kritis mahasiswa terhadap persoalan sosial dan lingkungan.
“Bagi saya, ini bukan sekadar nobar biasa, tetapi ruang belajar bersama agar mahasiswa tidak kehilangan keberanian untuk berpikir dan peduli terhadap kondisi di sekitar,” katanya.
Dalam diskusi tersebut, mahasiswa membahas berbagai persoalan lingkungan yang terjadi di Papua sebagaimana tergambar dalam film dokumenter tersebut. Namun, Awalludin juga mengajak mahasiswa untuk mulai menyoroti kondisi daerah sendiri, khususnya wilayah pesisir Bintan.
“Hari ini masyarakat pesisir Bintan, terutama di Desa Numbing dan sekitarnya, mulai merasakan dampak dari berbagai proyek pembangunan dan Proyek Strategis Nasional (PSN) yang ada di kawasan tersebut,” ujarnya.
Ia menilai ancaman terhadap ekosistem pesisir semakin nyata, mulai dari kerusakan mangrove, terganggunya wilayah tangkap nelayan, hingga potensi kerusakan lingkungan yang berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat sekitar.
“Persoalan seperti ini tidak boleh dianggap biasa. Mahasiswa harus hadir sebagai kelompok yang sadar, peduli, dan berani menyuarakan keresahan sosial maupun lingkungan,” tegasnya.
Menurutnya, kampus bukan hanya tempat memperoleh gelar akademik, tetapi juga ruang untuk membangun kesadaran sosial dan keberpihakan terhadap masyarakat.
Ia berharap kegiatan diskusi seperti ini dapat terus dilakukan sebagai upaya menjaga budaya intelektual dan semangat berpikir kritis di kalangan mahasiswa.
“Kami berharap ruang-ruang diskusi seperti ini terus hidup agar budaya berpikir kritis dan kepedulian sosial di kalangan mahasiswa tetap terjaga,” pungkasnya.(Ki)






