Zonakepri.com-Sejumlah wilayah di Provinsi Kepri masih ada yang terdampak kabut asap Karhutla kiriman dari Kalimantan.
Prakirawan BMKG Tanjungpinang Muhammad Fadris Dwiandoko menyebutkan berdasarkan pemantauan Citra Satelit Himawari pada tanggal 24 September 2026 pukul 10.00 WIB, sebagian wilayah Kepulauan Riau seperti Kabupaten Natuna dan Anambas serta wilayah Kecamatan Tambelan, Kabupaten Bintan masih termasuk wilayah yang terindikasi terdampak kabut asap kiriman dari wilayah Kalimantan.
Bahkan, sejak tanggal 25 Agustus 2026, wilayah tersebut menjadi wilayah di Provinsi Kepulauan Riau yang paling sering mendapat kiriman kabut asap dari wilayah Kalimantan.
Secara umum, saat ini hembusan angin di wilayah Kepulauan Riau dominan bertiup dari arah Tenggara menuju ke arah Utara – Timur Laut.
Sementara itu, berdasarkan pemantauan data hotspot pada tanggal 24 September 2026 tidak teridentifikasi adanya titik panas di sekitar wilayah Pulau Bintan.
“Masyarakat tetap perlu mewaspadai potensi munculnya kabut asap lokal dikarenakan kondisi cuaca beberapa hari kedepan yang masih terpantau relatif kering hingga basah dengan tiupan angin yang relatif kencang,”sebutnya, Kamis 24 September 2026.
Berdasarkan pemantauan titik panas (hotspot) dan laporan kejadian kebakaran dari BPBD juga masih terdapat indikasi kebakaran lahan/hutan di sejumlah wilayah Pulau Bintan. Kondisi tersebut berpotensi menghasilkan asap dan, apabila kebakaran meluas serta berlangsung dalam waktu yang lebih lama, dapat menyebabkan penurunan kualitas udara di wilayah sekitarnya.
Prospek Cuaca Kota Tanjungpinang dan Kabupaten Bintan Sekitarnya
Secara umum, kondisi cuaca di Kota Tanjungpinang dan Kabupaten Bintan hingga 5 hari ke depan (25 – 29 September 2026) diprakirakan masih didominasi oleh cuaca berawan hingga berawan tebal, dan terdapat potensi hujan ringan hingga sedang yang dapat disertai petir/kilat serta angin kencang namun bersifat lokal (tidak merata) pada siang hari.
Sementara itu kondisi angin permukaan bertiup dari arah Tenggara – Barat Daya dengan kecepatan 05 – 25 km/jam dengan suhu udara maksimum dan minimum diprakirakan masing-masing 33°C dan 25°C.
Secara meteorologis, kondisi tersebut diprakirakan karena masih adanya pengaruh dari aktivitas Gelombang Ekuator Rossby di sekitar wilayah Sumatera hingga ke wilayah Kepulauan Riau yang turut berkontribusi dalam meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan di sekitar wilayah Pulau Bintan.
Selain itu, terpantaunya daerah belokan angin (shearline) di sekitar wilayah Pulau Bintan menyebabkan perlambatan massa udara dan berkontribusi terhadap pertumbuhan awan-awan konvektif penghasil hujan.
Kondisi suhu muka laut yang masih hangat, berkisar antara 29 – 30°C dengan anomali negatif ke positif sekitar -0,5 – 1,0°C menyebabkan peningkatan uap air ke atmosfer, nilai kelembapan udara yang relatif cukup kering hingga basah pada atmosfer lapisan permukaan hingga menengah dengan nilai 30 – 100% dan kondisi labilitas atmosfer yang berada pada kategori labil sedang ikut berkontribusi terhadap pertumbuhan awan konvektif tersebut.
“Masyarakat diimbau untuk tetap memperhatikan perubahan cuaca yang dapat terjadi dengan cepat, khususnya ketika beraktivitas di luar ruangan maupun di wilayah perairan,”pesannya.
Informasi cuaca terkini dapat diperoleh melalui aplikasi InfoBMKG serta laman resmi BMKG di https://cuaca.bmkg.go.id, https://stamet-tanjungpinang.bmkg.go.id, https://iklim.bmkg.go.id, serta media sosial resmi BMKG Tanjungpinang melalui Instagram @stamet.tanjungpinang.bmkg (rul)









