Nasional

Provinsi Kepri Kaya Laut, Jangan Sampai Rentan Air Tawar

×

Provinsi Kepri Kaya Laut, Jangan Sampai Rentan Air Tawar

Sebarkan artikel ini
Muhammad Hakiem Sedo Putra, S.T., M.T.

Zonakepri.com-Kepulauan Riau memiliki laut yang luas. Namun, laut yang luas tidak otomatis menjamin ketersediaan air tawar.

Ini adalah paradoks yang harus menjadi perhatian Provinsi Kepri meliputi Kota Batam, Tanjungpinang, Kabupaten. Bintan, Karimun, Lingga, Natuna dan Anambas yang memiliki karakter wilayah berbeda, tetapi semuanya menghadapi persoalan yang sama.

Kebutuhan air terus berjalan, sementara ketersediaannya sangat bergantung pada kondisi hidrologi dan kemampuan infrastruktur.

Ketika musim kemarau berlangsung lebih panjang, persoalan tersebut dapat berubah menjadi tekanan serius.

Pertanyaannya sederhana:

Apakah Kepri sudah benar-benar siap jika cadangan air menurun lebih lama dari biasanya?

Kekeringan Tidak Datang Tiba-Tiba

Kekeringan bukan seperti banjir yang langsung terlihat. Ia berkembang perlahan ditandai curah hujan mulai berkurang. Hari tanpa hujan bertambah. Debit sumber air menurun.Tampungan mulai menyusut.

Kebutuhan masyarakat tetap berjalan.

Jika kondisi tersebut terus berlangsung, tekanan terhadap sumber air semakin besar.

Karena itu, kekeringan sebenarnya dapat dibaca sebelum masyarakat mengalami krisis.

Masalahnya, kita sering baru bergerak ketika dampaknya sudah terasa.

Jangan menunggu air habis untuk menyadari bahwa kita sedang menghadapi kekeringan.

Pertumbuhan Kepri Harus Diikuti Perhitungan Air

Kepri terus berkembang. Industri tumbuh. Permukiman bertambah. Pariwisata berkembang. Investasi masuk. Semua itu tentu positif. Tetapi semuanya membutuhkan air.

Maka setiap pembangunan seharusnya tidak hanya menjawab pertanyaan tentang lahan, jalan dan listrik semata.

Ada satu pertanyaan yang tidak kalah penting:

Dari mana airnya?

Berapa kebutuhan air kawasan tersebut?

Berapa cadangan yang tersedia?

Bagaimana jika musim kemarau berlangsung lebih panjang?

Pertanyaan ini harus dijawab sejak tahap perencanaan. Jangan sampai pembangunan berjalan cepat, tetapi penyediaan air tertinggal di belakang.

Kepri Perlu Peringatan Dini Kekeringan

Selama ini sistem peringatan dini lebih sering dikaitkan dengan banjir, longsor atau tsunami. Padahal kekeringan juga memiliki indikator yang dapat dipantau. Curah hujan dapat dianalisis.Debit dapat dicatat. Kondisi waduk dan embung dapat dipantau. Prakiraan cuaca dapat digunakan.Kebutuhan air dapat dihitung.

Data tersebut dapat digabungkan untuk mengetahui apakah kondisi masih normal atau mulai memasuki tingkat waspada.

Jika tanda-tanda tekanan sudah terlihat, pemerintah dapat mengambil tindakan lebih awal. Misalnya menyiapkan sumber air alternatif, mengatur distribusi, meningkatkan efisiensi dan memberikan informasi kepada masyarakat.

Peringatan dini harus bekerja sebelum krisis, bukan setelah krisis.Jangan Hanya Mengandalkan Pompa

Ketika masyarakat mulai kesulitan mendapatkan air, pompa sering menjadi solusi cepat. Pompa memang dapat membantu.Tetapi pompa bukan sumber air.

Jika sumber airnya terus menurun, kemampuan pompa juga memiliki batas.Karena itu, penggunaan pompa harus disertai dengan informasi mengenai kondisi sumber air.

Berapa debit yang tersedia?

Berapa kebutuhan?

Berapa lama sumber tersebut mampu bertahan?

Tanpa data tersebut, penanganan kekeringan akan terus bersifat darurat.

Air Hujan Harus Disimpan

Ada kebiasaan yang perlu kita ubah. Ketika hujan turun deras, air sering secepat mungkin dialirkan keluar. Ketika kemarau datang, kita justru mencari air. Padahal sebagian air hujan dapat ditampung.

Rumah, sekolah, kantor, hotel dan fasilitas publik dapat menerapkan pemanenan air hujan sesuai kebutuhan dan standar yang berlaku.

Tidak semua kebutuhan harus dipenuhi dari tampungan tersebut.

Namun air yang disimpan dapat menjadi cadangan untuk kebutuhan tertentu.

Air yang tersedia saat hujan jangan seluruhnya dibiarkan hilang.

Jangan Rusak Kawasan yang Menopang Air

Ketahanan air bukan hanya soal membangun waduk atau jaringan perpipaan. Ada kawasan tangkapan yang harus dilindungi.

Ada daerah resapan.

Ada vegetasi.

Ada ekosistem yang membantu mengatur perjalanan air.

Ketika kawasan tersebut mengalami tekanan akibat perubahan penggunaan lahan, fungsi hidrologisnya juga dapat terganggu.

Karena itu, menjaga daerah tangkapan air bukan sekadar agenda lingkungan.Itu adalah investasi untuk menjaga air Kepri. Industri Juga Harus Bertanggung Jawab.

Kepri memiliki aktivitas industri yang besar, terutama Batam. Kebutuhan air dari aktivitas ekonomi tentu tidak kecil. Karena itu, efisiensi air harus menjadi bagian dari pengelolaan industri.

Air yang digunakan perlu diukur.

Kebocoran harus dikurangi.

Penggunaan kembali air untuk kebutuhan yang sesuai perlu dikembangkan.

Semakin besar aktivitas ekonomi, semakin besar pula tanggung jawab menjaga sumber daya air.

Ekonomi yang kuat membutuhkan kepastian air.

Data Jangan Berhenti di Meja Pemerintah

GIS dan penginderaan jauh dapat membantu memetakan wilayah yang rentan kekeringan.

Data curah hujan dapat dibandingkan dengan kondisi sumber air. Perubahan tutupan lahan dapat dipantau.

Kondisi vegetasi dapat dianalisis. Namun data tidak boleh hanya menjadi laporan.

Data harus digunakan untuk mengambil keputusan.

Jika cadangan air menunjukkan tren penurunan, pemerintah harus sudah memiliki skenario tindakan.Bukan baru rapat ketika masyarakat mulai mengeluh. Masyarakat Bisa Menjadi Bagian dari Pemantauan Masyarakat adalah pihak yang paling dekat dengan sumber air.

Mereka mengetahui ketika sumur mulai surut.

Mereka melihat ketika mata air mengecil.

Mereka merasakan ketika pasokan air berubah.

Informasi tersebut dapat dikumpulkan dan diverifikasi.

Dengan sistem pelaporan sederhana, masyarakat dapat membantu pemerintah mendeteksi perubahan kondisi air di lapangan.Jadi masyarakat bukan hanya pengguna air. Masyarakat juga dapat menjadi bagian dari sistem peringatan dini.

Pertanyaan yang Harus Dijawab Kepri

Kepri perlu mulai membiasakan diri dengan pertanyaan yang sederhana tetapi penting:

Berapa air yang tersedia?

Berapa kebutuhan masyarakat?

Berapa kebutuhan industri?

Berapa kebutuhan pariwisata?

Berapa cadangan untuk menghadapi musim kemarau?

Dan yang paling penting:

Berapa lama cadangan tersebut mampu bertahan jika hujan tidak turun seperti yang diharapkan?

Jawaban tersebut harus berbasis data hidrologi. Bukan perkiraan. Bukan menunggu krisis.

Jangan Sampai Kaya Laut, Tapi Rentan Air Tawar

Kepri tidak kekurangan laut. Yang terbatas adalah air tawar yang dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.

Karena itu, pembangunan daerah harus berjalan bersama dengan ketahanan air.

Pemerintah perlu memperkuat pemantauan.

Dunia usaha perlu meningkatkan efisiensi.

Masyarakat perlu menggunakan air secara bijak.

Daerah tangkapan harus dilindungi.

Air hujan perlu dimanfaatkan.

Dan sistem peringatan dini harus diperkuat.

Kita memang tidak bisa mengatur kapan hujan turun. Tetapi kita bisa menentukan bagaimana air yang tersedia dikelola.

Jangan tunggu krisis untuk mulai menghitung air.

Sebab bagi wilayah kepulauan seperti Kepri, air bukan sekadar kebutuhan sehari-hari.

Air adalah fondasi kehidupan, ekonomi dan keberlanjutan pembangunan. (Muhammad Hakiem Sedo Putra, S.T., M.T.)

Tentang Penulis

Muhammad Hakiem Sedo Putra, S.T., M.T., adalah dosen Program Studi Rekayasa Tata Kelola Air Terpadu, Institut Teknologi Sumatera (ITERA), Lampung.  Bidang keahliannya meliputi hidrologi, sumber daya air, hidrologi forensik, serta bencana dan daya rusak air.