Zonakepri.com – Kementerian Pemberdayaan Perempuan Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) STAIN Sultan Abdurrahman (SAR) Kepulauan Riau bersama PUSPAGA Gurindam Kepri menggelar talkshow dalam rangka memperingati Hari Kartini, Jumat (24/04/2026).
Kegiatan ini menghadirkan Konselor PUSPAGA Gurindam Kepri, Marlia Saridewi, yang memaparkan pentingnya kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan dalam pembangunan masa depan.
Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bahwa kesetaraan gender bukan berarti menyamakan peran laki-laki dan perempuan, melainkan memberikan hak, kewajiban, serta kesempatan yang setara tanpa adanya hambatan.
“Kesetaraan gender adalah bagaimana laki-laki dan perempuan memiliki peluang yang sama. Bukan disamakan, tetapi menghilangkan hambatan yang ada,” ujarnya.
Ia juga menekankan bahwa pemberdayaan perempuan merupakan proses untuk meningkatkan kapasitas perempuan agar mandiri serta mampu mengambil keputusan dalam kehidupannya.
Mengusung tema “Perempuan Berdaya Menuju Indonesia Emas 2045”, talkshow ini menyoroti pentingnya peran perempuan dalam berbagai sektor, mulai dari pendidikan, kepemimpinan, hingga ekonomi kreatif.
“Perempuan muda memiliki peran strategis sebagai agen digital dan literasi, advokat kesetaraan, serta penggerak ekonomi kreatif,” jelasnya.
Selain itu, ia juga menyampaikan bahwa kesetaraan gender merupakan tanggung jawab bersama, bukan hanya isu perempuan semata.
“Perempuan muda adalah kunci perubahan menuju masa depan yang lebih baik,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Kementerian Pemberdayaan Perempuan DEMA STAIN SAR Kepri menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman mahasiswa terkait kesetaraan gender serta mempersiapkan generasi muda menuju Indonesia Emas 2045.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin memperingati Hari Kartini sekaligus meningkatkan kesadaran mahasiswa tentang pentingnya pemberdayaan perempuan,” ujarnya.
Ia menambahkan, saat ini akses perempuan terhadap pendidikan dan karier sudah semakin terbuka, namun masih terdapat berbagai tantangan yang perlu dihadapi bersama.
“Masih ada stigma budaya, beban ganda, serta keterbatasan akses yang menjadi tantangan bagi perempuan,” katanya.
Selain itu, persoalan stereotip gender dan potensi kekerasan berbasis gender juga menjadi perhatian dalam diskusi tersebut.
Ke depan, pihaknya berharap kegiatan seperti ini dapat mendorong kepercayaan diri perempuan untuk berkarya serta menciptakan lingkungan yang lebih adil dan inklusif.
“Harapannya, mahasiswa semakin sadar dan perempuan semakin percaya diri untuk berperan aktif dalam berbagai bidang,” pungkasnya.(Ki)






