Zonakepri.com – Pemerintah Kota Tanjungpinang mencatat distribusi air bersih telah mencapai sekitar 745,5 ton hingga Rabu (8/04/2026), sebagai upaya memenuhi kebutuhan warga yang kekurangan air bersih.
Bantuan air bersih tersebut disalurkan melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tanjungpinang ke sejumlah wilayah yang terdampak kekeringan.
Kepala Seksi Kedaruratan dan Logistik BPBD Kota Tanjungpinang, Yeni Wilda, SE, menyampaikan bahwa penyaluran bantuan air tersebut telah menjangkau hampir seluruh wilayah di Kota Tanjungpinang.
“Air yang sudah disalurkan sampai saat ini sudah berjumlah 745,5 ton,” ujar Yeni.
“Pembagian bantuan air ini sudah hampir merata di seluruh wilayah yang ada di Kota Tanjungpinang,” tambahnya.
Sementara itu, Plt. Sekretaris BPBD Kota Tanjungpinang sekaligus Koordinator dan Penanggung Jawab Satgas, Dedi Ariyanto, S.AP, menjelaskan bahwa penyaluran bantuan air dilakukan dalam dua tahap sejak Februari hingga April.
“Pembagian air ini sudah dimulai dari Februari sebagai tahap pertama pembagian bantuan air dan tahap kedua itu di bulan Maret sampai bulan April,” jelas Dedi.
Ia menyebutkan bahwa beberapa wilayah menjadi fokus penyaluran karena tingkat kebutuhan yang cukup tinggi, terutama di Kelurahan Pinang Kencana dan Kelurahan Air Raja.
“Wilayah yang lebih mendominasi itu ada di daerah Kelurahan Pinang Kencana dan Kelurahan Air Raja. Kemudian wilayah yang paling kekeringan di daerah Ganet seperti Hangtuah dan Alam Tirta Lestari karena pada umumnya masyarakat di sana tidak ada sumur, mereka mengharapkan PDAM,” ujarnya.
Lebih lanjut, Dedi menjelaskan bahwa sumber air yang disalurkan berasal dari bantuan PDAM Tirta Kepri melalui Waduk Sungai Pulai yang telah disiapkan untuk distribusi kepada masyarakat.
“Alhamdulillah kami mendapat bantuan air dari PDAM Tirta Kepri untuk mengambil air di Waduk Sungai Pulai melalui pipa yang sudah layak untuk didistribusikan kepada masyarakat,” ungkapnya.
Dalam proses penyaluran bantuan, BPBD tidak memberlakukan persyaratan khusus bagi masyarakat yang membutuhkan air bersih.
“Dalam menyalurkan bantuan air ini masyarakat tidak diberikan syarat tertentu, semua masyarakat yang membutuhkan kita suplai air sesuai dengan ketentuan,” tegasnya.
Namun demikian, tingginya kebutuhan masyarakat menjadi tantangan tersendiri dalam distribusi air di lapangan. Dedi menyebutkan bahwa permintaan secara individu sering kali menyebabkan antrean yang cukup panjang.
“Karena sangat banyak masyarakat yang membutuhkan air akibat kekeringan ini, jadi suplai air yang kami distribusi sangat banyak, apalagi kalau masyarakat mintanya personal, karena antriannya panjang bisa 2 sampai 3 hari,” jelasnya.
Ia menyarankan agar masyarakat mengajukan permintaan secara kolektif melalui RT agar penyaluran dapat dilakukan lebih efektif dan terorganisir.
“Kalau masyarakat mau cepat bisa melalui kolektif ke RT, dari RT dilaporkan ke kelurahan lalu diteruskan ke satgas agar air bisa langsung di distribusikan. Cara ini lebih efektif karena melalui RT lebih terstruktur sehingga kami bisa langsung turun ke lokasi,” tambahnya.
Dedi juga mengungkapkan bahwa keterbatasan jumlah personel menjadi salah satu kendala dalam proses distribusi.
“Karena petugas kami juga tidak banyak sekitar 13 sampai 15 orang yang tergabung dalam tim TRC (Tim Reaksi Cepat),” ujarnya.
Untuk mendukung kelancaran penyaluran, BPBD membentuk satuan tugas bersama pihak terkait.
“Dalam penyaluran bantuan air ini dibentuk tim satgas yang terdiri dari PDAM, BPBD Kota Tanjungpinang dan BPBD Provinsi Kepulauan Riau,” pungkas Dedi. (Ki)












