Zonakepri.com – Kabut pagi masih menggantung tipis ketika langkah para pemanjat cengkeh mulai menyusuri kebun.
Di antara pohon-pohon tinggi yang telah berumur puluhan tahun, mereka datang membawa harapan dan juga keberanian yang tak semua orang miliki.

Dengan peralatan sederhana, sebatang besi sepanjang satu hingga dua meter yang ujung dan pangkalnya dibengkokkan, para pemanjat bersiap memulai pekerjaan. Tanpa alat pengaman modern, mereka hanya mengandalkan pengalaman dan insting yang terasah dari waktu ke waktu.
Satu per satu, mereka mulai memanjat batang pohon yang menjulang. Tangan dan kaki bergerak perlahan, mencari pijakan yang kuat. Setiap langkah adalah pertaruhan, karena kesalahan kecil bisa berujung fatal.
Setelah mencapai bagian tengah batang, tali mulai diikatkan ke beberapa cabang pohon. Ikatan ini menjadi penopang tambahan agar pemanjat lebih leluasa bergerak di ketinggian, terutama saat harus menjangkau ranting-ranting di ujung pohon.
Di atas sana, besi bengkok digunakan untuk mengait ranting cengkeh. Ranting ditarik perlahan, lalu buah cengkeh dipetik satu per satu. Gerakan ini membutuhkan keseimbangan dan kepekaan, karena terlalu kuat menarik bisa merusak pohon, terlalu lemah membuat pekerjaan terhambat.
Hasil petikan dimasukkan ke dalam karung leher biasa disebut kandit yang tergantung di depan tubuh, mampu menampung sekitar tiga hingga lima kilogram. Saat penuh, hasil tersebut dipindahkan ke karung yang lebih besar yang digantung di pohon.
Bayu, salah satu pemanjat cengkeh, mengaku pekerjaan ini bukan tanpa bahaya. Ia bahkan sudah beberapa kali mendengar cerita rekan sesama pemanjat jatuh dari ketinggian.
“Sudah banyak yang jatuh. Memang bahaya, tapi mau bagaimana lagi. Ini merupakan kesempatan kami cari rezeki,” ujar Bayu.
Menurutnya, rasa takut pasti ada, namun kebutuhan hidup membuat mereka tetap bertahan. Baginya, berhenti memanjat bukan pilihan.
“Kalau tidak manjat, kami makan apa. Di rumah ada keluarga yang harus dinafkahi,” tambahnya.
Di balik risiko besar, pekerjaan ini memang menawarkan hasil yang cukup menggiurkan. Pada tahun 2026, upah pemanjat cengkeh berkisar antara Rp8.000 hingga Rp10.000 per kilogram, tergantung daerah. Dalam satu hari, hasil yang diperoleh bisa cukup besar, apalagi jika panen sedang melimpah.
Pohon-pohon cengkeh tua yang banyak ditemukan di wilayah seperti Natuna bahkan mampu menghasilkan hingga 60 kilogram dalam satu kali panen. Angka yang membuat pekerjaan ini tetap diminati, meski penuh risiko.
Harga sementara waktu cengkeh di pasaran saat ini juga tergolong tinggi. Untuk cengkeh kering, harga mencapai sekitar Rp100.000 per kilogram, sementara cengkeh basah berada di kisaran Rp28.000 hingga Rp30.000 per kilogram. Meski demikian, harga ini bisa berubah sewaktu-waktu, tergantung permintaan pasar.
Bagi Bayu dan pemanjat lainnya, naik turunnya harga bukan hal yang bisa mereka kendalikan. Yang bisa mereka lakukan hanyalah terus bekerja, memanfaatkan musim panen sebaik mungkin.
Menjelang sore, karung-karung besar mulai terisi. Tubuh lelah, tangan terasa berat, namun ada kepuasan tersendiri melihat hasil yang didapat.
Di balik aroma cengkeh yang harum dan nilai jualnya yang tinggi, tersimpan kisah perjuangan yang jarang terlihat. Para pemanjat ini terus bertaruh nyali di ketinggian, bukan karena mereka tak takut, tetapi karena ada keluarga yang menunggu di rumah.
Dan selama pohon-pohon cengkeh itu masih berdiri, selama itu pula mereka akan terus memanjat menggantungkan hidup di ujung ranting, demi masa depan yang lebih baik. (Zubadri)












