
Tanjungpinang, Zonakepri-Wajah lelaki itu terlihat damai dalam pembaringan. Seluruh tubuhnya terbungkus kain putih. Hanya seraut muka yang terbuka agar keluarga, saudara, kerabat dan sahabat bisa memandang untuk terakhir kalinya. Lantunan tahlil dari orang-orang yang mencintainya menggema memenuhi setiap ruang di tempat lelaki itu dibaringkan.
Lelaki itu bernama NESAR AHMAD bin Abdul Ahad. Seorang sahabat yang baik. Seorang teman yang selalu mendengarkan. Dan sekaligus orang tua yang selalu jadi tempat mengadu dan bertumpu.
Minggu malam 27 September 2020 pukul 23.00 WIB lelaki bersuara berat itu pergi memenuhi takdirnya. Di rumah sakit Harapan Kita Jakarta dia berpamitan pulang. Seperti sengaja dia memilih tempat yang jauh untuk pergi pulang. Karena dia tidak ingin melihat sahabat, teman dan orang-orang dekatnya meneteskan air mata meratapi kepergiannya. Dia sudah mengikhlaskan semuanya.
Orang-orang mengenangnya sebagai sosok yang tidak pernah punya dendam. Sebagai sosok yang ringan tangan ketika ada yang datang mengeluh dan meminta bantuan. Karena dia memahami bagaimana jadi orang susah seperti yang pernah dia rasakan ketika masa kecilnya bersama lima saudara menjalani hidup serba kekurangan.
Hidup memang hanya sebuah perjalanan waktu yang tidak pernah tahu akhirnya. Begitu juga lelaki ini. Kadang dia meneteskan air mata ketika datang kisah haru dari sahabat dan orang-orang yang dikenalnya. Karena dia tahu suatu waktu bisa saja kesusahan menimpa dirinya. Kekurangan menerpa hidupnya. Karena hidup punya jalan sendiri dengan akhir cerita yang tetap misteri bagi siapa saja.
Dia selalu sedikit mengeluh. Dia selalu mencoba berdiri di sisi terbaik untuk semuanya. Agar tidak ada yang terluka. Agar tidak ada tangis dan air mata.
“Dia seorang sahabat sekaligus orang tua yang baik. Almarhum lebih suka mendamaikan demi kebaikan semua.” Suara lirih Muhammad Nazib, salah seorang anggota DPRD Bintan, rekan kerja almarhum itu ketika memberi penghormatan terakhir di rumah duka. Nazib seperti tertegun ketika jenazah lelaki itu diangkat dengan keranda.
Tak jauh dari Nazib berdiri, Siti Mariyani terlihat mengusap matanya yang sembab. Wanita anggota DPRD Bintan dua periode ini mengaku begitu kaget dan merasa kehilangan atas kepergian almarhum. “Almarhum sering jadi penenang ketika perbedaan pendapat memuncak di dewan. Dia bisa berdiri untuk kami semua,” katanya setengah terisak.
Ketua DPRD Bintan, Agus Wibowo, dalam kata sambutannya mengucapkan terima kasih atas seluruh pengabdian yang telah diberikan almarhum untuk kemajuan Kabupaten Bintan. “Kita kehilangan seorang teman yang bekerja tulus dan penuh pengabdian. Kita yakin kerja dan pengabdian yang sudah diberikan almarhum pada masyarakat dan daerah menjadi catatan amal yang mulia di sisi Allah subhana wata’ala,” kata Agus Wibowo.
Langit begitu teduh ketika mobil jenazah yang menghantar almarhum ke peristirahatan terakhir berjalan perlahan. Angin juga bertiup lembut seolah ikut memberi penghormatan terakhir pada adik kandung Calon Gibernur Haji Ansar Ahmad ini.
Selamat jalan Bang Nesar…
Temui Rabmu dengan penuh kedamaian. Aku hantar kepergianmu dengan untaian doa semoga Allah melapangkan jalanmu…aamiin.
Allahummaghfirlahu warhamhu wa ‘afihi wa’fu anhu….







