
Tanjungpinang,Zonakepri-Nasib Penyondong Udang yang mencari nafkah dengan mencari udang di pinggir pantai di kawasan tepi laut Tanjungpinang makin memprihatinkan dari tahun ke tahun.
Penimbunan pinggir laut di kawasan tepi laut Tanjungpinang telah memberikan pengaruh terhadap penghidupan nelayan khususnya penyondong udang. Meskipun kegiatan pembangunan semata untuk kemajuan Kota Tanjungpinang.
Udang hasil sondong, biasanya dijual di pinggir jalan di kawasan Tepi Laut Tanjungpinang mulai Kawasan Teluk Keriting dan depan kantor Walikota Lama Jalan H Agus Salim Tanjungpinang.
Dikisahkan seorang penyondong udang Zainudin yang telah mencari udang sondong sejak 20 tahun lalu hingga sekarang, untuk menjual udang sondong sudah susah saat ini. Dalam sehari menyondong hasil udang hanya berkisar satu hingga dua ons saja yang didapat, dengan harga per ons Rp15 ribu.
Pendapatan ini jauh sekali berbeda dengan saat menyondong 20 tahun silam. Kegiatan menyondong di kawasan pinggir laut di Teluk Keriting bisa didapat udang hingga 2 kg sehari.
“Saat ini, untuk mendapat udang sondong sangat susah. Sehari paling bisa jual satu hingga dua kantong saja. Dengan berat satu kantong 1 ons saja,”keluhnya, Jumat 2 Oktober 2020 di pinggir jalan sebelum lokasi bak kontainer sampah di depan SMAN 5 Tanjungpinang di Teluk Keriting Tanjungpinang.
Menurut Zainudin, udang sondong dicari cari pemancing ikan yang digunakan sebagai umpan saat memancing ikan. Sehingga udang sondong pasti laku dan terjual habis jika dikaitkan di tongkat yang ditancapkan di pinggir jalan.
Meski penghasilan udang sondong terus menurun, namun Zainudin tetap mencari dengan mencari udang sebagai mata pencaharian utamanya. Mengingat Zainudin masih memiliki tanggung jawab menafkahi anaknya yang masih duduk di bangku SMA.
Bantuan yang pernah didapat Zainudin di masa Pandemi Covid-19 berupa bantuan sembako dari pemerintah. “Belum ada bantuan yang didapat, selain sembako, beberapa waktu lalu,”sebutnya. (red)












