Tanjungpinang

Sejarahwan Kepri : Mortir Temuan Nelayan Diduga Jejak Perang Dunia II di Tanjungpinang

×

Sejarahwan Kepri : Mortir Temuan Nelayan Diduga Jejak Perang Dunia II di Tanjungpinang

Sebarkan artikel ini
Mortir yang diamankan Polda Kepri dari kediaman nelayan Tanjungpinang

Zonakepri.com – Di tengah aktivitas melaut seperti biasanya, seorang nelayan tradisional di Tanjungpinang tanpa sengaja menemukan sebuah benda yang kemudian membuat geger warga. Bukan ikan atau hasil tangkapan laut lainnya, melainkan sebuah bom mortir yang diduga masih menyimpan jejak masa lalu.

Kabar penemuan pada 25 September 2025 itu sampai ke telinga sejarahwan Lembaga Adat Melayu (LAM) Kepri, Aswandi Syahri. Ia langsung memberi pandangan: mortir tersebut kemungkinan besar merupakan peninggalan Perang Dunia II.

“Kalau kita perhatikan bentuknya, ini bukan meriam kerajaan Melayu. Mortir ini jelas modern, dan kemungkinan besar berasal dari masa perang dunia,” tutur Aswandi, 2 Oktober 2025

Ia kemudian membawa cerita ke masa silam. Pulau Bayan, kawasan dekat lokasi penemuan, pernah menjadi benteng pertahanan pada era Raja Haji sekitar tahun 1780. Bahkan, ketika Belanda berkuasa, tempat itu beralih fungsi menjadi gudang pengisian bahan bakar kapal uap.

“Artinya, kawasan ini memang menyimpan sejarah panjang. Bisa jadi bukan hanya mortir yang tersisa, tapi mungkin juga bangkai kapal perang atau meriam yang terkubur di dalam laut. Kawasan ini belum pernah diteliti serius,” tambahnya.

Aswandi juga mengingatkan bahwa mortir modern berbeda jauh dengan senjata kerajaan Melayu tempo dulu. Meriam kuno yang dikenal dengan sebutan lela biasanya terbuat dari perunggu, dihiasi ukiran indah, dan sarat dengan nilai seni. Sementara mortir modern lebih sederhana, diciptakan semata untuk kepentingan perang besar.

“Di perairan Pulau Bayan pernah ditemukan meriam Melayu berukir, cantik, dan penuh makna sejarah. Itu jelas berbeda dengan mortir yang baru-baru ini ditemukan,” ungkapnya.

Penemuan mortir ini menjadi potongan cerita lain dari sejarah panjang Tanjungpinang. Sebuah pengingat, bahwa di balik laut tenang dan pulau-pulau yang tampak damai, tersimpan kemungkinan harta sejarah yang belum seluruhnya diungkap.(Ki)